Ringkasan Cepat / TL;DR
Argumen tandingan:

Para pendukung agama sering berargumentasi bahwa sangat penting untuk melindungi umat manusia dari ateisme, dan berpendapat bahwa individu yang berada dalam kesusahan memerlukan dukungan dan harapan untuk memupuk kesabaran, yang menurut mereka tidak ada dalam ateisme.

Argumen tandingan:

Banyak masyarakat ateis dan non-religius, seperti yang ada di Tiongkok, Vietnam, dan sebagian Afrika, telah berkembang selama ribuan tahun. Jika ketergantungan pada harapan ilahi merupakan hal yang penting, masyarakat ini akan berjuang untuk mempertahankan diri mereka sendiri melalui generasi-generasi awal.

Ketahanan Mental:

Pikiran manusia mampu memberikan dukungan dan persiapan yang diperlukan untuk menghadapi situasi yang menantang. Misalnya, ketika dihadapkan pada kemungkinan kematian, pikiranlah yang merasionalisasi dan menerima kematian sebagai kenyataan. Pikiran mungkin lebih jauh menganggap kematian sebagai suatu bentuk kelegaan atau transisi, yang mengarah pada rasa damai. Akibatnya, para ateis seringkali menunjukkan ketenangan yang lebih besar pada saat kematian dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang beragama [Wawancara terhadap sebagian besar orang yang tidak beragama sebelum Eutanasia di mana mereka merasa tenang karena mereka siap secara mental untuk mati].

Demikian pula, ketika dihadapkan pada ketidakadilan, pikiran menyadari bahwa alam semesta pada dasarnya tidak bekerja berdasarkan prinsip-prinsip keadilan. Sebaliknya, konsep keadilan telah dikembangkan oleh manusia melalui proses evolusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pikiran mendorong ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi ketidakadilan, menumbuhkan keberanian untuk menghadapi dan mengatasi masalah tersebut.

Persiapan Mental:

Intinya, tidak ada situasi di dunia ini yang tidak dapat dipersiapkan oleh pikiran manusia. Setelah siap secara mental, individu tidak memerlukan harapan eksternal tambahan atau dukungan dari dewa.

Pertimbangan Lebih Lanjut:

Orang yang beragama sering kali mengandalkan harapan ilahi, yang mungkin mengakibatkan kurangnya persiapan mental untuk menghadapi situasi buruk. Ketika harapan-harapan ini tidak terpenuhi, kekecewaan yang diakibatkannya dapat memperburuk penderitaan mereka. Selain itu, harapan palsu dapat menghalangi individu untuk mengatasi permasalahan nyata secara efektif, sehingga menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk dan peningkatan kerentanan.

Selain itu, individu yang beragama mungkin mengalokasikan sumber daya mereka—waktu, energi, dan uang—untuk berdoa dan melakukan pengorbanan daripada menyelesaikan masalah mendasar. Pengalihan sumber daya ini dapat menghambat penyelesaian masalah secara praktis, sehingga melanggengkan ketergantungan pada campur tangan Tuhan.

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.