Selama berabad-abad, dalam keluarga Muslim, pernikahan antara sepupu pertama telah terjadi dari generasi ke generasi. Artinya, di setiap generasi, beberapa sepupu pertama akhirnya menikah. Menurut ilmu pengetahuan, dengan perkawinan sepupu yang terus menerus di setiap generasi, proporsi gen yang sama terus meningkat.
Sains jelas bahwa:
- Sepupu pertama rata-rata berbagi 12,5% gen mereka. Proporsinya sama dengan antara kakek-nenek dan cucu. Menyebut pernikahan sepupu sebagai “pernikahan normal” pada kenyataannya adalah penipuan diri sendiri. Dari sudut pandang ilmiah, hubungan inses seperti kakek dengan cucunya atau nenek dengan cucunya.
Bahaya sebenarnya meningkat seiring berjalannya waktu. Jika sepupu terus menikah dalam keluarga lintas generasi:
Pada generasi keempat, sepupu berbagi 25% gen mereka, sama seperti saudara tiri. Pernikahan pada tahap ini setara dengan persatuan antara saudara tiri, dan risiko penyakit genetik serta kecacatan pada anak-anak mereka meningkat secara signifikan.
Pada generasi kedelapan, sepupu dapat berbagi 50% gen mereka, proporsi yang sama ditemukan antara saudara kandung atau antara orang tua dan anak. Perkawinan seperti ini sebenarnya setara dengan inses secara genetik, dimana anak-anak menghadapi risiko kesehatan yang parah.
Pernikahan Sepupu Ganda: Risiko Terbesar
Dalam Islam, pernikahan antara “sepupu pertama” juga dianggap diperbolehkan. Hal ini terjadi ketika dua saudara laki-laki menikahi dua saudara perempuan. Anak-anak mereka (yaitu sepupu ganda) sudah berbagi 25% gen mereka sejak generasi pertama, yang secara ilmiah setara dengan saudara tiri.
Jika pola ini berlanjut:
Pada generasi kedua, risiko terhadap anak-anak semakin meningkat.
Pada generasi ketiga, kesamaan gen mencapai 50%, sama seperti antara orang tua dan anak atau saudara kandung.
Dengan kata lain, perkawinan sepupu ganda generasi ketiga secara ilmiah setara dengan inses antara ibu dan anak laki-laki atau saudara laki-laki dan perempuan kandung. Anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut menghadapi risiko cacat lahir dan penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut mempunyai risiko yang jauh lebih tinggi untuk:
Kelainan jantung bawaan
Keterbelakangan mental dan cacat intelektual
Kelainan genetik seperti thalassemia
Gangguan penglihatan dan pendengaran
Bahkan kematian dini
Penelitian dari Inggris, Pakistan, dan Timur Tengah menegaskan bahwa angka kematian dan kecacatan di antara anak-anak yang berasal dari keluarga yang menikah dengan sepupu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum.
Berdasarkan dua laporan BBC (Report1 & Report 2):
- Diperkirakan setidaknya 55% orang Pakistan keturunan Inggris menikahi sepupu mereka, dan praktik ini berlanjut hingga generasi kedua.
- Menurut statistik, warga Pakistan keturunan Inggris 13 kali lebih mungkin memiliki anak dengan kelainan genetik dibandingkan populasi umum di Inggris.
- Di kota Birmingham, 10% anak yang lahir dari sepupu pertama meninggal saat masih bayi atau mengalami cacat parah akibat kelainan genetik resesif.
- Meskipun komunitas Pakistan hanya mencakup 3% dari seluruh kelahiran di Inggris, mereka mencakup 33% dari seluruh anak-anak Inggris yang menyandang disabilitas. Artinya, jika 55% warga Pakistan Britania memiliki pernikahan sepupu, maka 1,5% populasi warga Inggris yang melakukan pernikahan sepupu pertama merupakan 33% dari seluruh anak di Inggris yang menderita kelainan genetik. [Sumber: Makalah oleh Darr dan Modell diterbitkan pada tahun 2002 - Konseling Genetik dan perkawinan sedarah adat. Nature Reviews: Genetics, Vol 3 Maret 2002]
Ini bukan sekadar soal “izin agama”; ini tentang kesehatan dan kelangsungan hidup manusia dan generasi serta penderitaan yang ditimbulkannya terhadap anak-anak penyandang disabilitas yang tidak bersalah. Apa pun namanya, inses selalu membawa akibat yang sama: penyakit, kecacatan, dan kehidupan yang hancur.
Gen yang Dibagikan Lintas Generasi
| Gen Bersama Generasi (%) Perbandi | ngan Ilmiah | |
|---|---|---|
| 0 0% Tidak berhubungan | ||
| Sepupu pertama (generasi ke-1) 12 | ,5% Kakek–cucu | |
| 2 generasi berturut-turut 18,75% | Sepupu pertama pern | ah disingkirkan |
| 3 generasi berturut-turut 25% Sau | dara tiri | |
| 4 generasi berturut-turut 31,25% | --- | |
| 5 generasi berturut-turut 37,5% \ | --- | |
| Generasi ke-8–9 50% Saudara kand | ung |
Sepupu Pertama Ganda
| Gen Bersama Generasi (%) Per | bandingan Ilmiah | |
|---|---|---|
| Generasi pertama 25% Saudara | tiri | |
| 2 generasi berturut-turut 37 | ,5% --- | |
| 3 generasi berturut-turut 50 | % Saudara kandung |
