Ringkasan Cepat / TL;DR
Mengapa generasi baru Muslim di Barat menjadi radikal dan bukannya menjadi sekuler?

Pertanyaan:

Mengapa generasi baru Muslim di Barat menjadi radikal dan bukannya menjadi sekuler?

Jawaban:

Kebanyakan orang menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa generasi baru ini menjadi radikal karena:

  1. Mereka mencari identitas mereka.
  2. Mereka menghadapi marginalisasi politik dan ekonomi, sehingga mereka bereaksi dengan beralih ke radikalisasi.

Namun pertanyaan sebenarnya adalah bahwa masalah yang sama juga terjadi pada banyak komunitas imigran non-Muslim lainnya, yang datang dari negara-negara dunia ketiga dan menetap di Barat. Mereka juga menghadapi kerugian politik dan ekonomi, namun mereka berhasil berintegrasi ke dalam masyarakat dengan cukup mudah dan tidak menjadi radikal.

Jadi mari kita lihat alasan nyata dan penting (tetapi sebagian besar tersembunyi) yang menciptakan perbedaan ini.

Poin Pertama:

Apakah Anda percaya jika diberitahu bahwa meskipun Barat sangat mendukung kebebasan berekspresi, hak untuk mengkritik Islam masih belum dilaksanakan dengan benar?

Ya, di negara-negara Barat saat ini, di bawah panji-panji “penghormatan terhadap agama”, “kedamaian sosial”, atau ketakutan akan “Islamofobia”, jalan untuk mengkritik Islam secara terbuka terhalang dengan satu atau lain cara. Akibatnya, kritik yang tepat terhadap Islam tidak dilakukan di televisi, di universitas, perguruan tinggi, atau sekolah. (Masalah ini akan menjadi lebih jelas seiring kita melangkah maju.)

Poin Kedua:

Sangat penting untuk memahami perbedaan antara kedua jenis kritik ini:

  1. Kritik politik terhadap Islam
  2. Kritik langsung terhadap keyakinan dan doktrin Islam

Permasalahannya adalah kritik terhadap Islam yang ada di Barat hampir seluruhnya bersifat “politis” (seperti isu terkait imigrasi, terorisme, kegagalan integrasi, tuntutan hukum Syariah, dan politik Islam).

Namun, Anda hampir tidak akan menemukan kritik langsung terhadap keyakinan dan doktrin Islam di televisi, media, universitas, atau perguruan tinggi Barat.

Ini merupakan hal yang sangat penting dan merupakan akar permasalahan yang sebenarnya.

Poin Ketiga:

Tanpa kritik langsung terhadap keyakinan Islam, semua jenis kritik politik tidak akan efektif.

Inilah alasannya.

Para pengkhotbah Muslim di Barat telah diberi kesempatan penuh, tanpa tantangan apa pun, untuk menanamkan gagasan berikut ini dengan kuat di benak generasi baru Muslim bahwa memang ada Tuhan bernama Allah di surga. Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Kecerdasan manusia kita yang terbatas tidak dapat sepenuhnya memahami hikmat ilahi-Nya. Oleh karena itu, kita tidak dapat menentang perintah Tuhan Yang Maha Bijaksana ini, meskipun perintah tersebut tampaknya bertentangan dengan nalar manusia. Hanya perintah ilahi inilah yang dapat membawa kesuksesan dan keselamatan sejati bagi umat manusia.

Ketika keyakinan ini berhasil ditanamkan dalam benak generasi muda Muslim tanpa kritik, keraguan, atau tantangan apa pun, maka hampir mustahil bagi mereka untuk lebih mengutamakan hukum sekuler buatan manusia dibandingkan hukum Syariah Islam.

Setelah pengkondisian mental seperti ini, seberapa besar pun kritik politik yang Anda tujukan kepada mereka (misalnya mengenai hak-hak perempuan atau hak-hak non-Muslim), Anda akan selalu menghadapi kegagalan. Keyakinan mendasar akan keberadaan Allah di surga menetralisir setiap kritik politik semacam itu.

Akibatnya, meskipun generasi-generasi baru Muslim ini tampak terintegrasi di permukaan, kenyataannya mereka tidak pernah bisa berintegrasi sepenuhnya dan benar ke dalam masyarakat Barat yang sekuler. Akan selalu ada kesenjangan dalam integrasi mereka, yang menyebabkan mental mereka dan masyarakat tuan rumah tidak tenang.

Ketika kita berbicara tentang integrasi yang nyata dan menyeluruh, pahamilah dengan jelas bahwa anak muda Muslim ini secara mental membagi kehidupan ke dalam dua kotak terpisah: Agama milik hati, sedangkan hukum sekuler milik jalanan.

Meski sebagian besar dari mereka tidak radikal dan tampak terintegrasi dengan baik, konflik dan ketegangan batin masih tetap ada. Hal ini membuat mereka gelisah dan mempersulit integrasi penuh mereka.

Dalam banyak kasus, konflik batin ini dapat dikurangi dan integrasi dapat diselesaikan jika mereka juga diperbolehkan mendengarkan kritik langsung terhadap keyakinan Islam.

Apakah Anda sekarang melihat pentingnya kritik langsung terhadap kepercayaan terhadap Tuhan bernama Allah di surga?

Poin Keempat:

Generasi baru Muslim di Barat menerima ajaran tentang keimanan mereka dengan cara yang sepenuhnya sepihak.

Inilah titik di mana negara-negara Barat menghadapi kegagalan total.

Karena hampir tidak ada diskusi terbuka atau kritik terhadap keyakinan Islam di mana punDi tingkat publik (televisi, universitas, perguruan tinggi, dll.), para pengkhotbah Muslim mempunyai monopoli penuh atas pemikiran generasi Muslim baru. Sejak masa kanak-kanak, melalui masjid dan madrasah, mereka berhasil menanamkan dalam pikiran anak-anak ini keyakinan bahwa memang ada Tuhan bernama Allah di langit yang mengatur alam semesta, dan jika mereka meninggalkan perintah-Nya demi nilai-nilai sekuler, mereka akan terbakar dalam api neraka abadi.

Dengan kata sederhana: para pengkhotbah Muslim di Barat memiliki lebih banyak kesempatan untuk berdakwah dan menyebarkan pesan-pesan Islam kepada generasi Muslim baru dibandingkan dengan non-Muslim yang harus mengkritik dan menyampaikan pesan mereka kepada generasi Muslim baru ini.

Hal ini telah menciptakan sistem yang hampir sepenuhnya sepihak. Bahkan ketika mereka tinggal di Barat, generasi muda Muslim ini masih terjebak dalam sistem intelektual yang terisolasi dimana mereka hanya diperlihatkan sisi positif Islam dan tidak pernah melihat kekurangannya. Hal ini membuat sangat sulit bagi mereka untuk menantang atau menolak ajaran Islam yang bertentangan dengan kemanusiaan.

Poin Kelima:

Meskipun ada kritik politik terhadap Islam dan umat Islam di Barat, sering kali hal tersebut menghasilkan dampak sebaliknya.

Kritik politik ini berkisar pada isu-isu seperti imigrasi, terorisme, kegagalan integrasi, dan tuntutan hukum Syariah. Hal ini membuat generasi baru Muslim menjadi sangat defensif. Mereka tersinggung dan merasa Barat membenci mereka. Akibatnya, mereka menjadi semakin radikal.

Dan bentrokan dan peperangan di beberapa negara Muslim (Irak, Afghanistan dll) juga tidak membantu. 

Poin Keenam:

Barat harus belajar dari sejarahnya sendiri.

Barat sendiri telah melewati tahap-tahap tersebut. Pada awalnya, kritik terhadap Gereja dan Alkitab dianggap mustahil. Belakangan, kritik politik terhadap Gereja dimulai, namun pada akhirnya Alkitab sendiri juga ikut terkena dampaknya. Kritik publik yang terbuka dimulai terhadap beberapa ajarannya yang tidak manusiawi dan tidak adil, khususnya dari Perjanjian Lama. Masyarakat menjadi terbiasa berdiskusi, berdebat, dan mengkritik keyakinan agama secara terbuka.

Perubahan nyata di Barat baru dimulai ketika kritik langsung dilontarkan terhadap keyakinan-keyakinan inti mereka. Sebelumnya, orang-orang mengkritik Gereja namun tetap tetap beriman Kristen, dan hukum Alkitab terus ditegakkan. Hukum-hukum sekuler yang didasarkan pada nalar manusia baru mulai menggantikan hukum-hukum Alkitab ketika pertanyaan-pertanyaan langsung diajukan terhadap kepercayaan Alkitab itu sendiri.

Sebaliknya, umat Islam yang tinggal di Barat saat ini dapat mendengar kritik politik, namun ketika ada kritik doktrinal yang dilontarkan terhadap Allah atau Muhammad, mereka menjadi sangat marah. Akibatnya, debat dan diskusi publik terbuka yang bisa secara langsung mengkritik keyakinan Islam jarang diadakan di televisi atau platform publik, dan sering kali berhenti atas nama “penghormatan terhadap agama” atau “perdamaian sosial.”

Poin Terakhir:

Apa solusinya?

Lantas pertanyaannya, apa solusi untuk melindungi generasi baru umat Islam dari radikalisasi?

Jawabannya adalah dengan menyelenggarakan debat publik terbuka dan dua sisi di platform publik, di televisi, di universitas, perguruan tinggi, dan sekolah.

Dalam perdebatan ini, para pengkhotbah Islam harus diberi hak penuh untuk berdakwah dan menyebarkan Islam secara terbuka, memberikan argumentasinya, menjelaskan mengapa keyakinan Islam itu benar, mengapa hukum Syariah lebih baik daripada hukum sekuler, dan mengapa hukum tersebut juga harus diterapkan di Barat.

Pada saat yang sama, non-Muslim juga harus diberikan kebebasan penuh untuk mengkritik keyakinan Islam secara terbuka, tanpa menghadapi tuduhan “tidak menghormati agama”, “mengganggu perdamaian”, atau “Islamofobia”, sehingga pesan mereka dapat langsung menjangkau generasi baru Muslim juga.

Ini adalah satu-satunya cara untuk menarik generasi baru Muslim keluar dari isolasi di mana mereka saat ini hanya menerima pesan dari para pengkhotbah Muslim di masjid-masjid, dan bukan dari dunia sekuler.

Hanya ketika generasi muda ini mendengarkan argumen dan kritik dari kedua belah pihak barulah mereka dapat melihat gambaran keseluruhan dan mengambil keputusan yang tepat. Hanya dengan cara inilah reformasi nyata dapat terjadi di masyarakat.

NB

Adapun generasi Muslim baru yang tinggal di negara-negara Muslim, lupakan saja mereka sekarang. Di negara-negara Islam, umat Islam telah menciptakan sistem yang tertutup dan terisolasi sehingga tidak ada suara kritik terhadap keyakinan Islam yang sampai ke generasi muda. Mereka menjadi korban pencucian otak yang sepenuhnya sepihak. Itulah sebabnya mengapa melakukan reformasi di masyarakat Muslim seperti ini sangatlah sulit.

Kritik yang Diterima pada Artikel Ini:

Setelah artikel ini diterbitkanBahkan, sejumlah kalangan melontarkan kritik dari berbagai sudut. Mereka berpendapat bahwa jika diskusi terbuka dan perdebatan mengenai keyakinan agama mulai dilakukan di televisi nasional, universitas, dan ruang publik lainnya, hal ini bisa menjadi strategi yang berbahaya.

Menurut mereka, hal itu bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat. Masyarakat bisa saja menjadi korban kerusuhan, kekacauan, dan provokasi yang dapat meningkatkan kebencian dan jarak antar komunitas.

Mereka juga khawatir akan terjadi reaksi sebaliknya. Ketika keyakinan dihadapkan pada pertanyaan dan kritik langsung, generasi muda Muslim mungkin akan bersikap lebih defensif. Hal ini dapat mendorong mereka lebih dekat dengan kelompok yang lebih ekstremis.

Demikian pula, mereka mengungkapkan kekhawatiran bahwa dalam perdebatan agama, agama mau tidak mau menjadi sasaran tidak hanya kritik namun juga ejekan. Hal ini dapat menimbulkan permasalahan terkait hukum dan ketertiban serta merusak keharmonisan sosial. Oleh karena itu, dalam masyarakat Barat, mengutamakan perdamaian dan ketertiban dibandingkan kebebasan berekspresi dianggap sebagai kebutuhan politik.

Tanggapan Kami:

Ini adalah kritik serius terhadap artikel kami. Kekhawatiran seperti ini memang ada, terutama di negara-negara yang institusinya lemah. Beberapa masalah mungkin timbul di sana. Oleh karena itu, kita tidak dapat sepenuhnya menyangkal kenyataan ini.

Namun, kami berpandangan bahwa dalam jangka panjang, bahaya sebenarnya terletak jika kita menghindari diskusi-diskusi ini sama sekali. Ketakutan bahwa debat publik akan menimbulkan “kerusuhan” atau meningkatkan radikalisasi, menurut kami, hanya akan mendorong masyarakat menuju stagnasi intelektual.

Jika kita menghentikan diskusi karena takut pihak lain akan gelisah, atau perasaan mendalam mereka akan tersakiti, yang dapat memperburuk hukum dan ketertiban, maka hal ini sama saja dengan diperas oleh para ekstremis. Setiap kelompok ekstremis kemudian dapat menggunakan ancaman yang sama untuk memaksa negara diam sesuai keinginan mereka.

Landasan masyarakat sekuler tidak dibangun di atas gagasan bahwa tidak seorang pun boleh merasa tersinggung atau tersakiti oleh perdebatan. Sebaliknya, hal ini dibangun berdasarkan prinsip bahwa cara yang tepat untuk mengungkapkan ketidaksenangan adalah dengan merespons dengan argumen, bukan melalui kekerasan, ancaman, atau angkat senjata.

Anggaplah ekstremisme agama seperti panci presto. Ketika kita membiarkannya menyebar di ruangan tertutup (seperti masjid dan sistem yang terisolasi) dan tidak menghadapinya di tingkat publik, maka penyebarannya akan semakin intens. Akhirnya, itu meledak dengan keras. Sebaliknya, ketika seorang anak muda melihat pendakwahnya yang seolah-olah “tak terkalahkan” dan ajaran agamanya tidak bisa berkata-kata di hadapan argumen-argumen yang logis, maka berhala-berhala “suci” yang tertanam dalam pikirannya pun mulai hancur. Uap mulai keluar dari panci presto.

Radikalisasi terjadi ketika seseorang menjadi yakin bahwa dirinya memiliki semacam “kebenaran yang utuh dan tak terbantahkan”. Namun ketika ia menyadari bahwa ada keberatan-keberatan yang serius dan berbobot terhadap keyakinan-keyakinan dasarnya, keberatan-keberatan yang tidak dapat dijawab secara meyakinkan oleh agamanya, maka ia keluar dari keyakinannya yang kaku dan memasuki keadaan ragu-ragu. Baik sejarah maupun psikologi menunjukkan bahwa “keraguan” ini adalah senjata yang sangat ampuh melawan ekstremisme. Oleh karena itu, solusi nyata terhadap radikalisasi adalah “keraguan”, bukan “diam”.

Faktanya, mungkin seluruh sejarah menjadi saksi bahwa setiap kali gagasan lama mulai ditentang di mana pun, gagasan tersebut langsung dituduh menyebarkan “kekacauan”. Namun hal ini selalu sama dengan pengobatan medis: pembedahan yang diperlukan untuk menyembuhkan suatu penyakit memang menimbulkan rasa sakit, namun meninggalkan nanah atau kanker di dalam tubuh akan menyebabkan kematian.

Namun, kita juga harus mengakui bahwa tidak semua “kritik” ada gunanya. Hanya kritik yang penuh hormat dan berdasarkan argumen yang dapat terbukti benar-benar bermanfaat.

Pahami poin penting ini: tugas negara sekuler bukan hanya mengendalikan lalu lintas di jalan raya. Tugasnya yang paling penting juga adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis warganya. Semua masyarakat sekuler muncul atas dasar diskusi, perdebatan, dan prinsip kritik. Tanpa kritik seperti itu, reformasi sejati tidak akan mungkin terjadi.

Oleh karena itu, memampukan warga negara untuk mengemukakan apa yang dianggap sebagai keyakinan suci mereka untuk didiskusikan dan dikritik sangatlah penting dalam masyarakat sekuler. Di sisi lain, memilih diam atas nama hukum dan ketertiban sebenarnya sama saja dengan menyirami bibit ekstremisme.

Jadi sekali lagi, permintaan kami adalah: biarkan ide-ide bersaing satu sama lain di lapangan terbuka. Biarkan keraguan secara diam-diam melanjutkan upayanya melawan segala bentuk radikalisasi. Di wa iniy, masyarakat akan menjadi benar-benar kuat dari dalam.

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.