Ringkasan Cepat / TL;DR
AlQuran :

Kaum Islamis mengklaim bahwa Teori Big Bang diceritakan dalam Al-Quran. Mereka menyajikan ayat berikut:

Al-Quran 21:30:

اَوَ لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ

ADALAH, MAKA, mereka yang mengingkari kebenaran tidak menyadari bahwa langit dan bumi adalah [dulu] satu kesatuan [Bahasa Arab: رَتۡقًا Ratqan], yang kemudian Kami belah dua [Bahasa Arab: فَفَتَقۡنٰہُمَا] [Diterjemahkan oleh Muhammad Asad]

Tidakkah orang-orang kafir mengetahui bahwa langit dan bumi dulu merupakan satu massa kemudian Kami memisahkan keduanya? [Diterjemahkan oleh -Dr. Mustafa Khattab]

Masalah dengan klaim Islamis ini adalah:

(1) Langit dan Bumi Bukan Satu Kesatuan, Melainkan Diciptakan Secara Terpisah, Namun Letaknya Berdampingan:

Penerjemahan kata "ratqan" (رَتْقًا) sebagai "satu kesatuan" atau "satu massa" adalah ketidakjujuran oleh Penerjemah Muslim.

Menurut Lane's Lexicon, kata "ratqan" berarti "tertutup" atau "dijahit" (Lane's Lexicon, hal. 1027 رَتْقًا). Dengan demikian, ayat tersebut tidak menyiratkan bahwa bumi dan langit merupakan suatu massa atau keadaan yang homogen dan merupakan satu kesatuan.

Ayat ini menyatakan bahwa langit dan bumi pada mulanya bersatu pada saat penciptaan, dan kemudian terpisah. Hal ini tidak berarti bahwa mereka pada mulanya merupakan satu massa yang tidak terdiferensiasi.

Terjemahan yang benar dari ayat ini adalah: 

Quran 21:30: "Tidakkah orang-orang yang mengingkari kebenaran melihat bahwa langit dan bumi bersatu dan kemudian Kami pisahkan?"

Lebih jauh lagi, hadits Muhammad mendukung pemahaman bahwa langit dan bumi diciptakan sebagai satu kesatuan yang berbeda dan terpisah.

Sahih Bukhari, 3191:

... Dia berkata, "Pertama-tama, tidak ada apa pun selain Allah, dan (kemudian Dia menciptakan Arsy-Nya). Arsy-Nya berada di atas air, dan Dia menulis segala sesuatu di dalam Kitab (di Surga) dan menciptakan Langit dan Bumi."

Jika ini adalah satu kesatuan/satu massa, maka Muhammad akan berkata:

" ... Singgasana-Nya berada di atas air, dan Dia menulis segala sesuatu di dalam Kitab (di Surga) dan menciptakan satu massa homogen, yang darinya kemudian Langit dan Bumi tercipta."

Konsep yang ada di berbagai budaya (seperti yang akan kita lihat nanti di artikel ini) adalah bahwa Bumi dan Langit diciptakan secara terpisah, namun pada awalnya ditempatkan berdekatan satu sama lain. Muhammad meniru konsep ini. 

Ibnu Katsir menulis dalam tafsir ayat ini (link):

Tidakkah mereka melihat bahwa Langit dan Bumi itu ratqan, artinya semuanya saling bersambung (muttaṣil), bersentuhan (mutalāṣiq) dan bertumpuk (mutarākim) di awal urusan. Kemudian Dia memisahkan yang ini (langit) dari itu (bumi), maka Dia menjadikan langit menjadi tujuh dan bumi menjadi tujuh dan memisahkan langit yang paling bawah dan bumi dengan udara.

(2) Perpisahan Bukan Berarti "Ledakan"

Kata Arab فَفَتَقۡنٰہُمَا fafataqnahuma juga menjadi bukti bahwa mereka bukanlah satu kesatuan/satu massa ketika dipisahkan. 

Kata فَفَتَقۡنٰہُمَاadalah kata ganti objek DUAL (link). 

Dengan demikian, ayat tersebut menyatakan bahwa "Kami pisahkan mereka" (kata ganti ganda 'huma'), bukan "Kami pisahkan itu", sehingga menunjukkan bahwa:

  • Bumi dan surga adalah dua entitas yang berbeda bahkan sebelum terpisah. 
  • dan mereka hanya tinggal sebagai dua entitas yang berbeda SETELAH pemisahan juga. Hal ini menunjukkan bahwa ayat tersebut berbicara tentang pemisahan dari duaentitas, bukan pemisahan satu massa menjadi beberapa bagian karena EKSPLOSI.

Selain itu, tidak disebutkan ledakan dalam ayat ini atau di tempat lain dalam Al-Qur’an. Kata "fataq" (فَتَقَ) berarti memecah, memisahkan, atau terbuka, namun tidak berarti peristiwa kekerasan seperti ledakan. Al-Qur’an hanya berbicara tentang langit dan bumi yang dipisahkan secara teratur dan terkendali, bukan peristiwa yang kacau atau merusak seperti Big Bang, yang melibatkan perluasan materi dan energi dengan cepat.

(3) Dalam Kisah Penciptaan Alquran, Bintang Tidak Berasal dari Langit

Menurut narasi Al-Quran, alam semesta terdiri dari tujuh langit, dan bintang-bintang hanya terbatas pada langit pertama (yang terendah, juga disebut sebagai surga dunia kita), dan ditambahkan kemudian dalam proses penciptaan. Hal ini secara eksplisit menyiratkan bahwa enam langit lainnya tidak memiliki bintang apa pun.

Dalam Quran 41:9-12 dinyatakan:

Quran 41:12:

Kemudian Dia membentuk surga menjadi Tujuh Langit dalam dua hari, dan memberikan mandat kepada masing-masing langit. Dan Kami menghiasi (hanya) langit yang paling rendah (ke-1) (yaitu langit Bumi kami) dengan ˹bintang-bintang seperti˺ lampu ˹untuk keindahan˺ dan untuk perlindungan

Ayat ini menjelaskan bahwa:

  • Bintang-bintang tidak berasal dari langit atau bumi, tetapi kemudian mereka diciptakan secara terpisah dan ditempatkan di bawah langit pertama.
  • Pembentukan 7 langit dan menjaga bintang-bintang hanya di bawah langit pertama mengacu pada "Desain Cerdas". Sedangkan Big Bang adalah sebuah "EKSPLOSI", yang tidak akan pernah bisa menciptakan rancangan cerdas seperti yang dijelaskan Al-Qur’an.

(4) Bumi Terbentuk 9 Miliar Tahun Setelah Big Bang

Klaim Al-Quran tidak dapat dipertahankan secara ilmiah, karena Bumi muncul sekitar 9 miliar tahun setelah Big Bang.

Big Bang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, menandai terbentuknya alam semesta, termasuk bintang dan galaksi. Seiring berjalannya waktu, banyak bintang awal mengalami siklus pembentukan dan kehancuran, beberapa di antaranya meledak menjadi supernova, melepaskan unsur-unsur yang diperlukan untuk pembentukan bintang dan planet baru. Pada akhirnya, planet Bumi kita terbentuk 4,5 miliar tahun yang lalu dari sisa-sisa bintang-bintang terdahulu.

Hal ini menciptakan kesenjangan 9 miliar tahun antara penciptaan alam semesta (langit) dan pembentukan Bumi, yang berarti keduanya tidak terbentuk secara bersamaan. Oleh karena itu, gambaran Al-Qur’an tentang langit dan bumi yang terpisah satu sama lain tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan modern, yang menunjukkan bahwa keduanya tidak pernah “bersama” seperti yang dinyatakan dalam ayat tersebut.

(5) Al-Qur’an hanya mengulang-ulang cerita kuno tentang Penciptaan dimana bumi dan langit pada awalnya berdekatan

Banyak kebudayaan kuno yang berbagi mitos atau cerita tentang langit dan bumi yang bersatu lalu terpisah. Berikut daftar beberapa budaya sebelumnya dengan kepercayaan seperti itu:

1. Mitologi Mesopotamia (Sumeria/Babilonia)

  • Mitos: Dalam mitologi Sumeria, langit dan bumi bersatu sebelum dipisahkan oleh para dewa.
  • Contoh: "Gilgamesh dan Netherworld" menjelaskan bagaimana langit dan bumi awalnya bersatu, namun kemudian dipisahkan oleh para dewa.

2. Mitologi Mesir

  • Mitos: Dewi langit Nut dan dewa bumi Geb awalnya berpelukan erat sebelum mereka dipisahkan secara paksa oleh dewa Shu untuk menciptakan ruang agar dunia ada.
  • Contoh: Perpisahan Nut dan Geb sering digambarkan dalam seni Mesir, dengan langit melengkung di atas bumi, dan dewa udara Shu memisahkan mereka.

3. Mitologi Yunani

  • Mitos: Dalam kosmologi Yunani kuno, Uranus (langit) dan Gaia (bumi) awalnya menyatu, dan Uranus terletak di atas Gaia. Mereka kemudian dipisahkan oleh putra mereka, Cronus.
  • Contoh: Euripides, seorang tragedi Yunani, menceritakan kisah tentang bagaimana langit dan bumi adalah satu bentuk namun kemudian terpisah, sehingga melahirkan semua kehidupan.

4. Kosmologi Hindu

  • Mitos: Dalam cerita penciptaan Hindu, langit dan telingath dianggap bersatu sebelum dipisahkan oleh tindakan ilahi.
  • Contoh: Dalam beberapa versi, dewa Prajapati atau Indra bertanggung jawab memisahkan langit dan bumi untuk menciptakan dunia seperti yang kita kenal.

5. Mitologi Nordik

  • Mitos: Dalam mitologi Nordik, kosmos berawal dari sebuah kehampaan yang disebut Ginnungagap, dan dari kehampaan ini, raksasa Ymir terbentuk. Belakangan, para dewa memisahkan unsur-unsur primordial untuk menciptakan langit dan bumi.
  • Contoh: Para dewa membentuk langit dari tengkorak Ymir dan bumi dari tubuhnya, sehingga memisahkan alam-alam ini dalam prosesnya.

6. Mitologi Maori (Polinesia)

  • Mitos: Dalam mitologi Maori, Rangi (langit) dan Papa (bumi) terikat erat, dan anak-anak mereka, para dewa, memisahkan mereka agar kehidupan dan cahaya dapat berkembang.
  • Contoh: Dewa Tāne memisahkan langit dan bumi, menciptakan dunia di antara keduanya.

7. Mitologi Tiongkok

  • Mitos: Dalam mitos Tiongkok kuno, Pangu, dewa pencipta, memisahkan langit dan bumi, yang awalnya bercampur menjadi satu dalam kekacauan.
  • Contoh: Pangu konon mengangkat langit dan menekan bumi untuk memisahkannya, sehingga menciptakan dunia.

8. Mitos Penduduk Asli Amerika (Berbagai Suku)

  • Mitos: Beberapa suku asli Amerika, seperti Hopi dan Iroquois, menceritakan kisah persatuan primordial langit dan bumi, yang diikuti dengan pemisahan mereka untuk membentuk dunia saat ini.
  • Contoh: Dalam mitologi Iroquois, Wanita Langit turun dari langit, dan bumi terbentuk di bawahnya.

9. Mitologi Jepang

  • Mitos: Dalam kepercayaan Shinto, langit dan bumi pada awalnya menyatu dalam bentuk yang kacau hingga dipisahkan oleh para dewa primordial.
  • Contoh: Mitos penciptaan menggambarkan bagaimana dewa pertama, Izanagi dan Izanami, membentuk bumi dan langit, memisahkan mereka saat mereka menciptakan pulau-pulau di Jepang.

10. Mitologi Afrika (Orang Dogon di Mali)

  • Mitos: Suku Dogon di Afrika Barat percaya bahwa bumi dan langit pernah menjadi satu kesatuan sebelum dipisahkan menjadi kosmos.
  • Contoh: Menurut mitologi Dogon, bumi dan langit dipisahkan oleh tindakan dewa tertinggi Amma, yang menyebabkan penciptaan dunia.

Mitos-mitos ini mengungkapkan kepercayaan yang tersebar luas dan kuno di banyak kebudayaan bahwa bumi dan langit pada awalnya bersatu dan kemudian terpisah, sering kali melalui campur tangan ilahi. Kisah Al-Qur’an tentang langit dan bumi yang menyatu dan kemudian terpisah mencerminkan tradisi budaya kuno ini, yang menunjukkan bahwa hal ini merupakan tema umum dalam mitologi manusia jauh sebelum munculnya Islam.


Tautan Eksternal:

  1. [Membongkar keajaiban big bang]
  2. Kosmologi Big Bang dan Al-Qur’an (PDF)
  3. Sharif Gaber (Video)
Detail
Terakhir Diperbarui: 19 Oktober 2024

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.