Ringkasan Cepat / TL;DR
Dalam Islam, “Ikrar Ridwan” (Bay’ah alRidwan) dianggap sebagai momen kesucian tertinggi. Orangorang Muslim percaya bahwa ketika para sahabat berkumpul di bawah pohon di Hudaybiyyah untuk mengikrarkan ...

Latar Belakang dan Masalah Inti

Dalam Islam, “Ikrar Ridwan” (Bay’ah al-Ridwan) dianggap sebagai momen kesucian tertinggi. Orang-orang Muslim percaya bahwa ketika para sahabat berkumpul di bawah pohon di Hudaybiyyah untuk mengikrarkan hidup mereka kepada Muhammad, Allah sendiri yang menjawab dari surga, menyatakan “kesenangan”-Nya terhadap mereka. Persetujuan ilahi ini, yang diabadikan dalam Ayat 48:18, dipandang oleh umat Islam sebagai jaminan paspor menuju surga. Peristiwa ini merupakan salah satu momen paling termasyhur dalam sejarah Islam, dan menjadi sumber kebanggaan yang sangat besar hingga saat ini.

Namun, sebuah pertanyaan kritis masih terkubur di balik tradisi dan keheningan akademis selama berabad-abad.

Pernahkah ada ulama yang mengatakan kepada Anda bahwa ayat terkenal ini (yakni Allah ridha dengan para sahabat), tidak diturunkan pada saat janji?

Hal ini tidak diungkapkan pada saat janji, atau segera setelahnya. Itu muncul tiga bulan penuh kemudian.

Pada saat para sahabat meletakkan tangan mereka di tangan Muhammad di bawah pohon itu, Ayat 48:18 tidak ada. Pahala yang mereka puji pada hari ini, tidak diberikan kepada mereka pada hari itu. Ayat ini diturunkan tiga bulan kemudian, pada saat Penaklukan Khayber, ketika kaum Muslim telah memiliki rampasan perang yang sangat besar.

Realitas sejarah ini menimbulkan pertanyaan yang tidak dapat dihindari: Mengapa ditunda?

Jika Allah benar-benar “ridha” terhadap para sahabat pada saat janji tersebut, lalu apa yang menghalangi mereka untuk mengatakan hal tersebut? Ketika seorang komandan menyaksikan keberanian luar biasa dari prajuritnya, dia langsung memuji mereka, bukan sembilan puluh hari kemudian. Mengapa Tuhan Islam Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengetahui membutuhkan waktu tiga bulan untuk mengapresiasi kesetiaan hamba-hamba-Nya pada momen yang sudah lama berlalu?

Untuk menemukan jawabannya, kita harus mencermati apa yang sebenarnya terjadi pada Hudaybiyyah.

Sebelum ikrar tersebut, kubu Muslim mendapat kabar bahwa Utsman bin Affan telah dibunuh oleh pihak Quraisy. Laporan ini sepenuhnya salah, dan Utsman masih hidup. Namun, tidak ada seorang pun di kamp yang mengetahui hal ini. Percaya bahwa berita itu benar, Muhammad menyerukan ikrar perang dan sekaligus mengumumkan wahyu Ayat 48:10: "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu sebenarnya bersumpah setia kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka."

Ini adalah poin paling kritis. Dengan mengumumkan ayat ini, Muhammad menggambarkan Allah yang mendukung dan menyucikan janji yang seluruhnya didasarkan pada kebohongan. Allah, yang seolah-olah maha tahu dan mengetahui segala sesuatu, meletakkan “tangan” ilahi-Nya di atas tangan manusia yang bersumpah akan membalas kematian yang belum pernah terjadi.

Kemudian, hal tak terduga terjadi: Utsman kembali dengan selamat.

Para sahabat didorong ke dalam posisi yang sangat tidak nyaman. Jika Allah benar-benar mengetahui segalanya, mengapa Dia tidak memberi tahu mereka bahwa Utsman masih hidup? Mengapa Dia menguduskan janji berdasarkan informasi palsu? Mengapa tidak ada wahyu segera setelah ikrar yang menyatakan: "Bergembiralah, persidangan telah selesai, Anda telah berhasil; tetapi kabar baiknya adalah Utsman masih hidup dan saya senang dengan kesetiaan Anda"?

Meskipun "persidangan" telah selesai, tidak ada yang terungkap pada saat itu.

Saat ini, kalangan keagamaan memberikan alasan bahwa ini adalah sebuah “Ujian Ilahi.” Mereka mengklaim bahwa Allah ingin melihat apa yang ada di dalam hati orang-orang beriman, dan ikrar adalah instrumen dari ujian tersebut. Namun alasan ini semakin memperumit masalah. Jika ikrar itu sendiri adalah ujiannya, maka ujian itu berakhir pada saat para sahabat memberikan baiatnya. Jika permintaan maaf "ujian" itu benar, Allah seharusnya menyatakan pada saat itu juga: "Kamu telah lulus ujian, Utsman masih hidup, dan Aku ridha padamu."

Namun deklarasi itu tidak pernah sampai pada Hudaybiyyah. Jika dilihat dari sudut pandang yang jujur ​​dan lugas, alasannya sederhana saja yaitu tidak ada satu pun makhluk ilahi di surga yang memberikan kabar gaib kepada Muhammad. Sebaliknya, Muhammad sendiri yang merumuskan wahyu-wahyu ini. Karena hanya manusia biasa, dan tidak memiliki pengetahuan nyata tentang apa yang tersembunyi, dia menerima laporan palsu, memercayainya, bertindak berdasarkan laporan tersebut, dan mengklaim wahyu sebagai tanggapan terhadap laporan tersebut.

Akibatnya, meski berjanji atas laporan palsu, tidak ada koreksi yang datang dari atas karena tidak ada orang di atas yang menawarkan koreksi. Kesalahan tersebut hanya menggantung di udara, tidak terjawab, menebarkan keraguan di benak mereka yang telah menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri.

Khayber: Menyelesaikan Keraguan Spiritual melalui Kekayaan Materi

Tiga bulan kemudian, Khayber meninggalditaklukkan. Pasukan Muslim kembali dengan membawa rampasan perang yang sangat banyak, dan suasana kamp berubah dari keraguan menjadi perayaan. Justru dalam semangat kegembiraan dan kepuasan materi inilah Muhammad mengumumkan turunnya ayat 48:18 hingga 48:21. Dalam ayat-ayat ini, Allah akhirnya menyatakan “kesenangan”-Nya kepada para sahabat atas janji yang diambil tiga bulan sebelumnya, memuji kesetiaan mereka, menghadiahi mereka dengan rampasan Khayber, dan yang paling penting, membujuk mereka dengan janji rampasan perang yang lebih banyak lagi.

Demikianlah tiga pertanyaan yang diam-diam menggerogoti benak para sahabat selama tiga bulan: mengapa Allah menghendaki kebohongan, mengapa tidak ada koreksi setelah ikrar, dan mengapa tidak ada pengakuan Ilahi pada saat itu. Keraguan itu terkubur di bawah hiruk-pikuk kemenangan, kekayaan, dan janji-janji imbalan lebih lanjut.

Ini bukanlah suatu kebetulan waktu. Isi ayat-ayat tersebut bukannya tanpa tujuan. Pada bagian yang seolah-olah tentang imbalan spiritual, penyebutan rampasan perang yang berulang kali menceritakan kisahnya sendiri.

Bagaimana narasi ini ditindas, dan bukti spesifik yang membuktikannya, dirinci di bagian berikut.

Kebenaran Tersembunyi Pertama: Ayat "Senang" diturunkan bukan pada saat Ikrar, tetapi hanya tiga bulan setelah Ikrar.

Pernahkah para cendekiawan Muslim membiarkan Anda mencurigai bahwa ayat terkenal yang menyatakan “ridha Allah dengan para sahabat yang berbaiat di bawah pohon” sebenarnya tidak diturunkan pada saat ikrar?

Pernahkah para cendekiawan Muslim membiarkan Anda melihat sekilas fakta bahwa ayat terkenal yang menyatakan Ridho Allah dengan para sahabat yang berbaiat di bawah pohon, sebenarnya tidak diturunkan pada saat janji tersebut?

Tidak, melainkan ayat ini diturunkan tiga bulan setelah Ikrar Hudaybiyyah.

Dan mengapa demikian?

Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan kesalahan serius yang dibuat oleh Allah (yaitu, Muhammad) pada kejadian itu.

Selama lebih dari seribu empat ratus tahun, para cendekiawan Muslim telah berhasil menyembunyikan kenyataan ini dari masyarakat, memastikan bahwa umat Islam pada umumnya tidak akan pernah mengetahui kisah sebenarnya di balik ayat ini.

Ayat tersebut seperti di bawah ini:

Ayat 48:18:

لَقَدۡ رَضِیَ اللّٰہُ عَنِ الۡمُؤْمِنِیۡنَ اِذۡ یُبَایِعُوۡنَکَ Layanan Pelanggan yang Dapat Diatur السَّکِیۡنَۃَ عَلَیۡہِمۡ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا  

Sesungguhnya Allah ridha terhadap orang-orang yang beriman, ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, lalu Dia mengetahui isi hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka, dan membalas mereka (past tense) dengan kemenangan yang hampir/cepat (dari Khaibar).

Bukti Tata Bahasa untuk Wahyu Pasca-Peristiwa:

Waktu turunnya wahyu dikonfirmasi oleh tata bahasa ayat itu sendiri, khususnya frasa: وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا (“Dia menghadiahi mereka dengan kemenangan yang dekat").

Dalam bahasa Arab klasik, kata kerja أَثَابَهُمْ (“Dia mengganjar mereka") menggunakan bentuk past tense. Penggunaannya di sini menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa peristiwa—”kemenangan yang hampir”—telah terjadi ketika ayat tersebut disampaikan. Sebagaimana dikonfirmasi oleh komentar-komentar tradisional (termasuk komentar dari tokoh-tokoh seperti Tabari dan Maududi), “hampir menang” ini secara eksplisit mengacu pada Penaklukan Khaybar, yang terjadi kira-kira tiga bulan setelah Ikrar.

Seluruh rangkaian kata kerja dalam ayat tersebut mencerminkan tindakan yang telah selesai:

  • لَقَدۡ رَضِیَ (Dia senang)

  • فَعَلِمَ (Maka Dia menjadi mengetahui)

  • فَاَنۡزَلَ (Maka Dia menurunkan)

  • وَأَثَابَهُمْ (Dan Dia memberi pahala kepada mereka)

Ayat ini dibaca sebagai ringkasan retrospektif dari peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi dalam sejarah, bukan keputusan ilahi yang berlaku secara real-time.

Ibnu Jarir al-Tabari menulis dalam Tafsirnya (link):

Ibnu al-Muthanna meriwayatkan kepada kami, mengatakan: Muhammad ibn Ja’far meriwayatkan kepada kami, mengatakan: Syu’bah meriwayatkan kepada kami dari al-Hakam dari Ibnu Abi Layla tentang ayat “dan Dia membalas mereka dengan kemenangan yang segera” (48:18) — dia berkata: Mengacu pada Khaybar. 
* Bishr meriwayatkan kepada kami, mengatakan: Yazid meriwayatkan kepada kami, mengatakan: Sa’id meriwayatkan kepada kami dari Qatadah tentang “dan Dia menghadiahi mereka dengan kemenangan yang segera” — dia berkata:
Itu adalah Khaybar.
* Ibnu ’Abd al-A’la meriwayatkan kepada kami, mengatakan: Ibnu Thawr meriwayatkan kepada kami dariom Ma’mar dari Qatadah tentang “dan Dia membalas mereka dengan kemenangan yang dekat” — dia berkata: Telah sampai padaku bahwa yang dimaksud adalah Khaybar.

Akibatnya, fakta menakjubkan terungkap di sini bahwa ayat yang mengumumkan keridhaan (Allah) dengan janji itu diturunkan di Khaybar, tiga bulan setelah janji tersebut.

Dan ketika seseorang mulai merenungkan pertanyaan mengapa ayat ini diturunkan setelah tiga bulan, maka saat itulah dia mulai curiga bahwa “ada sesuatu yang mencurigakan”.

Dan ketika seseorang merenungkan lebih jauh pertanyaan ini, sebuah kesalahan Allah (rinciannya akan dijelaskan nanti dalam artikel ini) mulai terungkap kepadanya.

 

Kekeliruan Hudaybiyyah: Mengapa Allah SWT tidak mengetahui bahwa Usman tidak terbunuh? 

Inti penegasan teologis yang dikemukakan oleh Muhammad adalah bahwa Tuhan (Allah) adalah Yang Maha Mengetahui (Alim) dan Maha Mengetahui (Khabir). Namun, peristiwa di Hudaybiyyah menimbulkan kesalahan fatal yang secara langsung mempertanyakan keberadaan Tuhan yang mahatahu.

Namun, di Hudaybiyyah, Allah (yaitu Muhammad sendiri) melakukan kesalahan yang menimbulkan pertanyaan tentang keberadaan Allah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Mengetahui dan Maha Mengetahui.

Mari kita periksa dulu kesalahan ini:

Pada tahun keenam Hijrah (Sirat Ibnu Hisham), Muhammad berangkat menuju Mekah dengan tujuan menunaikan ibadah haji. Kemudian singgah di Hudaybiyyah, Muhammad mengutus Utsman bin Affan sebagai utusan kepada masyarakat Mekah untuk memberitahukan mereka bahwa ia datang bukan dengan niat berperang melainkan untuk menunaikan ibadah haji. Namun, ketika kepulangan Utsman tertunda, laporan palsu menyebar di kalangan umat Islam bahwa penduduk Mekah telah membunuh Utsman.

Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya di bawah ayat 48:10 (link):

"Rasulullah mengutus Utsman bin Affan ke Mekah, dan ketika kepulangan Utsman tertunda, orang-orang berkata: Utsman telah terbunuh..."

Ibnu Katsir selanjutnya menulis di bawah ayat yang sama (link):

Berita yang mengkhawatirkan ini sangat menyusahkan umat Islam dan Rasulullah sendiri, dan beliau mengatakan bahwa sekarang kami tidak akan pergi tanpa mengambil keputusan. Akibatnya, Nabi memanggil para sahabat dan mengambil janji dari mereka di bawah pohon - ini adalah Ikrar Ridwan... Penelepon Rasulullah mengumumkan bahwa Roh Kudus (Jibril) telah datang kepada Rasulullah dan memerintahkan janji tersebut - datang dan ambillah janji atas nama Allah. Kemudian kaum Muslim bergegas maju dengan penuh semangat. Nabi SAW sedang berada di bawah pohon saat itu. Semua orang berjanji bahwa mereka tidak akan pernah meninggalkan medan perang dalam keadaan apa pun.

Konfirmasi Ilahi:

Di puncak krisis ini, dengan kepastian kematian Utsman, Muhammad mengklaim wahyu langsung dari sebuah ayat yang tampaknya mengesahkan berita tersebut dan mengukuhkan janji yang dihasilkan:

(Quran 48:10) اِنَّ الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ۚ یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ...

Memang benar, orang-orang yang berjanji setia kepadamu sebenarnya sedang berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka...

Penggunaan kata kerja imperfect (present continuous) "یُبَایِعُونَکَ" (berjanji setia) menegaskan bahwa Muhammad menyatakan bahwa ayat tersebut diturunkan secara real-time, sehingga menguduskan tindakan yang sedang berlangsung. Implikasinya jelas: dengan menerima janji melalui wahyu ini, Allah sendiri menegaskan casus belli (penyebab perang) (yaitu kematian Utsman) adalah benar.

Yang terpenting, setelah menerima janji khidmat, hidup atau mati, tidak ada wahyu lebih lanjut yang dikirim untuk memperjelas situasi sebenarnya --- misalnya, pesan yang menyatakan: “Allah ridha dengan kesetiaan Anda, tapi yakinlah, Utsman masih hidup.”

Kontradiksi: Utsman Kembali Hidup:

Namun, bertentangan dengan konfirmasi ilahi ini, Utsman kemudian kembali dalam keadaan hidup. Ibnu Katsir menulis lebih lanjut (link):

فبايع الناس ... ثم أتى رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أن الذي كان من أمر عثمان باطل.

Orang-orang berjanji setia... tetapi kemudian datang informasi kepada Rasulullah, damai dan berkah besertanya, bahwa apa yang diberitakan tentang Utsman adalah palsu.

Akibatnya timbul keraguan di hati manusia mengenai wahyu ini, dan mulai timbul pertanyaan apakah wahyu ini benar-benar berasal dari Allah Surgawi yang Maha Mengetahui dan Maha Mengetahui, atau apakah wahyu tersebut berasal dari manusia dan Muhammad sendiri yang menyampaikannya. Karena beliau hanya manusia biasa dan bukan Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengetahui, apakah beliau melakukan kesalahan dalam wahyu tersebut?

Langkah Strategis Terakhir: Menutupi Kesalahan dengan Rampasan perang:

Kontradiksi yang ditimbulkan oleh kegagalan Tuhan “Yang Maha Mengetahui” untuk mengkonfirmasi fakta sederhana dan kembalinya Utsman, bertahan selama tiga bulan.

Situasi itu berbahaya bagi Muhammad.

Oleh karena itu, ia sekali lagi mengadopsi formula lama yang telah teruji yaitu “ujian/ujian” untuk keluar dari krisis ini.

Krisis narasi ini terselesaikan hanya setelah Penaklukan Khaybar, yang menghasilkan kekayaan yang sangat besar.

Muhammad memanfaatkan euforia pasca kemenangan, dengan mengklaim wahyu Surah Al-Fath (48:18 dan seterusnya). Dalam pesan yang diatur waktunya secara strategis ini, kesalahan tersebut diubah menjadi ujian yang mendalam:

  • Alasan: 
    Ikrar Hudaybiyyah bukanlah sebuah penegasan faktual namun hanyalah sebuah "ujian" yang melaluinya Allah berusaha mengamati dan "mengetahui keadaan hatimu." Alasan ini mengalihkan fokus dari kebenaran berita (wafatnya Utsman) ke kesetiaan para Sahabat.

  • Hadiah dan Pengalihan:
    Pada saat yang sama, Muhammad mengumumkan bahwa Allah kini “ridha” terhadap mereka. Untuk memperkuat narasi baru ini dan memastikan para Sahabat menghilangkan semua pertanyaan tentang kesalahan tersebut, beliau berulang kali menggoda mereka dengan janji kekayaan dalam waktu dekat. Ayat-ayat tersebut menekankan bahwa rampasan langsung atas Khaybar hanyalah rampasan pertama, dan masih banyak lagi harta yang menyusul, sehingga berhasil mengalihkan fokus mereka dari kegagalan teologis ke keberhasilan penaklukan secara material.

Wahyu yang tertunda, yang disampaikan di tengah kekayaan dan kepuasan Khaybar, secara efektif berfungsi sebagai pengendalian kerusakan, membangun kembali legitimasi dan menjamin kesetiaan dengan menggantikan pembenaran spiritual dan insentif materi dengan kemahatahuan ilahi yang terbukti gagal di Hudaybiyyah.

Maka, tiga bulan kemudian, Muhammad menggunakan kesempatan ini untuk mengklaim turunnya ayat Surat Al-Fath tersebut. 

Surat Al-Fath 48:18–21

Ayat 18: لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah ridha terhadap orang-orang yang beriman, ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, sehingga Dia mengetahui isi hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan atas mereka, dan mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat/cepat (Khaibar).

Ayat 19: وَمَغَانِمَ كَثِيرَةًيَأْخُذُونَهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan banyak barang rampasan perang yang akan mereka peroleh (di masa depan), dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayat 20: وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَٰذِهِ dan أَيْدِيَ النَّاسِ عَنكُمْ وَلِتَكُونَ آيَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

Allah telah menjanjikan kepadamu barang rampasan perang berlimpah yang akan kamu peroleh. Dia telah memberikan kepadamu ini (rampasan perang Khaybar) segera  dan menjauhkan tangan manusia darimu, agar itu menjadi tanda bagi orang-orang yang beriman, dan agar Dia memberi petunjuk kepadamu ke jalan yang lurus.

Ayat 21: وَأُخْرَىٰ لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

Dan selain itu (rampasan Khaybar), Dia akan memberimu (seperangkat rampasan) lagi yang belum dapat kamu peroleh. Allah sudah meliputinya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Penting untuk memahami tujuan ayat-ayat ini dan mengapa Muhammad mengklaim ayat-ayat tersebut:

  • Pertama, Muhammad menggunakan metode yang sama dan sudah teruji untuk mengajukan alasan janji Hudaybiyah sebenarnya adalah sebuah UJI yang melaluinya Allah ingin mengetahui "apa yang ada dalam hatimu." 

  • Dan kemudian, Muhammadmemberikan kabar baik dalam ayat-ayat ini bahwa Allah `ridha’ dengan mereka, sehingga para Sahabat menjadi BAHAGIA dan berhenti mengajukan pertanyaan tentang janji tersebut, dan mengapa Allah tidak memberi tahu bahkan setelah janji itu selesai bahwa berita itu palsu, dan Utsman tidak terbunuh, tetapi hidup. 

  • Lebih jauh lagi, dalam ayat tersebut, Muhammadberkali-kali menggoda para Sahabat dengan iming-iming"barang rampasan perang" (ghanīmah)  agar mereka berhenti mengajukan pertanyaan lebih lanjut mengapa Allah membenarkan berita bohong itu dengan baiat, dan tidak memperjelasnya bahkan setelahnya. 

Kemenangan di Khaybar dan kekayaan hasil rampasan perang membantu mengalihkan perhatian para sahabat dari keraguan yang muncul akibat berita bohong di Hudaybiyyah.

Sayangnya, para apologis Muslim masih mengulangi alasan bahwa:

Allah telah mengetahui bahwa Utsman masih hidup, namun hal itu dimaksudkan sebagai ujian Ilahi untuk melihat apa yang ada di hati manusia.

Namun timbul pertanyaan: apakah ini benar-benar sebuah ujian,

  1. Kemudian segera setelah ujian selesai (yakni segera setelah para sahabat menunaikan ikrar), hendaknya segera diturunkan wahyu di Hudaybiyyah, yang menyatakan bahwa itu adalah ujian agar Allah mengetahui apa yang ada di hatimu, bahwa kamu berhasil melakukannya, bahwa Allah ridha kepadamu, dan bahwa Utsman tidak terbunuh melainkan masih hidup.

  2. Lalu mengapa Allah baru ingat setelah tiga bulan memberi tahu para sahabat bahwa janji itu hanya sekedar ujian?

  3. Dan mengapa Allah ingat untuk memberitahu para sahabat bahwa Dia ridho dengan mereka atas suatu perbuatan, yang telah terjadi 3 bulan sebelumnya? Mengapa Allah tidak memberitahukan saat itu juga pada hari Hudaybiyyah, pada saat baiat bahwa Dia ridha kepada mereka?

Namun permasalahannya adalah bahwa bahkan setelah janji, ujian, dan keberhasilan mereka dalam hal tersebut, wahyu Ilahi tetap diam mengenai keberadaan Utsman yang masih hidup. Masalah ini baru terselesaikan ketika Utsman sendiri muncul dalam keadaan hidup di hadapan umat Islam.

Pikirkan sejenak. Berpikir bukanlah kejahatan.

Catatan Penting: Selengkapnya tentang Alasan "Ujian"  |

                                                                                                                        |

Patut dicatat bahwa di mana pun Muhammad terjebak dalam masalah wahyu (yaitu, kesalahan Allah | ditemukan), atau dia/Allah menghadapi kegagalan, dia akan langsung berdalih bahwa ini hanyalah cobaan/ujian dari Allah. | Muhammad menggunakan taktik ini di beberapa tempat. Misalnya: | | - Pencabutan Yerusalem sebagai Kiblat (Arah | Doa): [Alasan: | Ini adalah ujian bagi Allah untuk melihat siapa yang berpaling dari Islam. Tapi sejarah memberitahu kita tidak ada satu orang pun yang berpaling dari Islam karena perubahan kiblat. Pertanyaannya kemudian adalah apa gunanya tes tersebut?] | | - Dalam peristiwa Ayat Setan muncul pertanyaan: Bagaimana Setan bisa menyesatkan Nabi dan menyebabkan dia mengucapkan | dua ayat setan sebagai wahyu, bahkan di hadapan Jibril? Sekali lagi, Allah/Muhammad menawarkan alasan lama | ujian tersebut, menyatakan bahwa Allah ingin menguji manusia melalui ayat-ayat setan ini [Ayat 22:52]. Harap baca semua detail | di sini.. | | - Kekalahan dalam Perang Uhud juga dimaafkan dengan menyatakan bahwa Allah ingin mengetahui siapa yang benar-benar berimanpernah | (Quran 3:140). Dan alasan yang sama mengenai UJIan berulang kali diajukan dalam Ayat 3:152 dan kemudian Ayat 3:154. | | Dan masih banyak lagi (misalnya | di sini). |

Lubang yang Digali di Jalan Kebenaran

Pertanyaannya, mengapa para pencari kebenaran mengembara selama berabad-abad dengan membawa pelita ilmu, akal, dan keimanan, namun gagal mencapai tujuannya? Apakah kebenarannya memang sejauh itu, atau adakah seseorang yang memasang jebakan di sepanjang jalan?

Kenyataannya adalah di dunia ini, propaganda palsu, cuci otak agama, dan penipuan intelektual adalah jurang terdalam yang menjadi ujian terbesar bagi setiap pencari kebenaran. Dunia ini tidak sempurna, kebenaran juga tidak selalu dapat dilihat dengan mudah di sini. Di sini, kebenaran terkubur di bawah lapisan kekuasaan, tradisi, dan pengabdian, dan siapa pun yang mencoba menggalinya mulai jatuh ke dalam lubang yang sama yang digali oleh para pemimpin agama dan cendekiawan yang mementingkan diri sendiri berabad-abad yang lalu.

Tujuan dari lubang-lubang ini bukanlah agar manusia dapat mencapai kebenaran, namun agar manusia tetap tersesat selamanya. Dan inilah sebabnya mengapa tak terhitung banyaknya orang yang cerdas dan tulus, tidak peduli seberapa banyak mereka melakukan penelitian, pada akhirnya terjerat dalam penipuan ini.

Mari kita sekarang melihat lubang-lubang yang digali oleh para cendekiawan Muslim di jalan kebenaran, sehingga realitas sebenarnya dari Ikrar Ridwan dan ayat-ayat yang diturunkan setelahnya akan dibungkam selamanya.

 

Lubang Pertama: "Kemenangan" bukan berarti "Penaklukan Khaybar," melainkan "Kemenangan Hudaybiyyah"

Fakta diturunkannya ayat “Senang” tiga bulan kemudian adalah kenyataan yang harus disembunyikan oleh para cendekiawan Muslim dengan segala cara, agar kesalahan Tuhan ini tidak terbongkar ke publik. Dan kalaupun terungkap, keraguan harus diciptakan sehingga mereka tidak akan pernah mempertanyakannya.

Oleh karena itu, untuk menghindari kesulitan ini, lubang pertama digali.

Beberapa ahli tafsir menawarkan penafsiran bahwa “Kemenangan” di sini bukan berarti Khaybar melainkan Gencatan Senjata Hudaybiyyah. Oleh karena itu, mereka mengklaim bahwa ayat tersebut diturunkan pada saat janji, untuk menunjukkan bahwa Allah ridha pada saat itu juga.

Misalnya, Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya (Link):

"Kemenangan ini merupakan perjanjian damai yang terjadi di Hudaybiyyah, yang darinya tercapai kesejahteraan umum, dan disusul dengan penaklukan Khaybar, Makkah, dan wilayah lainnya."

Namun di sini mereka mengabaikan kontradiksi mendasar:

Jika kemenangan mengacu pada Hudaybiyyah, lalu mengapa ada penyebutan rampasan perang di ayat berikutnya? Tidak ada pertempuran yang terjadi di Hudaybiyyah, dan umat Islam juga tidak menerima rampasan apa pun. Sebaliknya, rampasan perang baru diperoleh setelah Penaklukan Khaybar.

Jadi, lubang pertama runtuh dengan sendirinya.

Karena kelanjutan ayat tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa penyebutan rampasan datang segera dengan “Kemenangan”, dan ini hanya mungkin terjadi setelah Khaybar, bukan pada Hudaybiyyah.

 

Lubang Kedua: Ayat tersebut diturunkan pada Hudaybiyyah, namun menyebutkan Kemenangan "Masa Depan"

Setelah alasan pertama gagal, penipuan kedua dibuat.

Dan diklaim:

"Baiklah, ayat tersebut memang diturunkan pada saat ikrar, namun penyebutan kemenangan di dalamnya adalah ramalan tentang kemenangan di masa depan (yakni Khaybar)."

Dan untuk membenarkan hal ini, penafsiran lain diciptakan bahwa:

Dalam Al-Qur’an, peristiwa di masa depan kadang-kadang diceritakan dalam bentuk masa lalu untuk menciptakan kepastian.

Penafsiran ini terdengar masuk akal, namun konteks ayat-ayat tersebut membantahnya.

Karena surat Al-Fath ayat 20 dan 21 menyebutkan dua jenis rampasan:

(48:20) "Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan berlimpah yang akan kamu peroleh, dan Dia telah mempercepat ini (yang satu, rampasan Khaybar) untukmu..."

(48:21) "Dan selain itu (rampasan Khaybar), Dia akan memberimu (rampasan) lain yang belum kamu kuasai."

Jelas terlihat di sini bahwa ada penyebutan rampasan yang diperoleh di masa lalu (Khaybar), dan penyebutan kedua tentang rampasan di masa depan.

Seandainya ayat tersebut diturunkan pada saat Hudaybiyyah, maka kata-kata tersebut akan kehilangan maknanya segera setelah ikrar.

Jadi, lubang kedua juga runtuh seperti lubang pertama, karena konteks Al-Qur’an dengan jelas menunjukkan bahwa lubang ini diturunkan di Khaybar setelah janji, dan bukan di Hudaybiyyah.

 

Lubang Ketiga: Mengganti "Rampasan" dengan "Kemenangan"

Ketika menjadi jelas dari ayat-ayat ini bahwa ayat “Senang” sebenarnya diturunkan setelah Khaybar, dan penyebutan “rampasan” di dalamnya merupakan tanda bahwa Allah sedang berusaha mengalihkan perhatian dari kesalahan-Nya pada saat berjanji, beberapa cendekiawan Muslim menemukan cara baru untuk mengatasi kesulitan ini.

Mereka mengubah penyebutan jelas "rampasan" menjadi “kemenangan" dalam terjemahan dan tafsir ayat-ayat tersebut, sehingga maknanya berubah dan pertanyaan apakah ayat-ayat ini benar-benar diturunkan setelah Khaybar tidak muncul di benak masyarakat.

Surah Al-Fath, Ayah 20. وَعَدَكُمُ اللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةً تَأْخُذُونَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هَٰذِهِ وَكَفَّ أَيْدِيَ النَّاسِ عَنكُمْ وَلِتَكُونَ آيَةً لِّلْمُؤْمِنِينَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

Allah menjanjikan kepadamu harta rampasan yang melimpah, yang akan kamu peroleh. Dan segera (kemenangan) ini dianugerahkan kepadamu, dan tangan-tangan manusia tertahan untuk tidak menyerangmu, sehingga itu menjadi tanda bagi orang-orang yang beriman dan agar Allah memberi petunjuk kepadamu ke jalan yang lurus.

Surah Al-Fath, Ayah 21. وَأُخْرَىٰ لَمْ تَقْدِرُوا عَلَيْهَا قَدْ أَحَاطَ اللَّهُ بِهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

Dan selain ini (kemenangan), Dia akan memberi Anda (kemenangan) lainnya yang belum Anda kuasai.

Anda dapat melihat terjemahan yang terdistorsi ini di sini (Ayah 20 dan Ayah 21).

Namun penipuan ini pada akhirnya tidak berlangsung lama, karena:

  • Penyebutan "Kemenangan" hanya ada di Ayah 18.

  • Bahwa penyebutan “Rampasan” berlanjut secara berurutan pada Ayah 19, 20, dan 21.

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa apa yang digambarkan dalam ayat-ayat ini bukanlah “Kemenangan”, melainkan rampasan Khaybar.

Itulah sebabnya distorsi terjemahan ini juga gagal, dan lubang ketiga ini terbukti tidak efektif dalam menyembunyikan kebenaran.

 

Lubang Keempat: Penopang "Keraguan" – Tafsir Maududi dan Ulama Lainnya

Ketika isu berita bohong mengenai terbunuhnya Utsman mengemuka dalam peristiwa Sumpah Ridwan, para ahli tafsir menghadapi kesulitan yang besar. Al-Qur’an menyatakan:

"إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ" (Al-Fath 48:10) "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu hanyalah berjanji setia kepada Allah."

Nah, jika janji tersebut diambil berdasarkan berita bohong, timbul pertanyaan mengapa Tuhan menerima janji berdasarkan kebohongan? Dan mengapa Dia tidak menjelaskan segera setelah janji tersebut menyimpulkan bahwa Utsman sebenarnya masih hidup?

Untuk menghilangkan kontradiksi yang serius ini, ulama seperti Maududi mengajukan alasan baru bahwa Nabi tidak “yakin” bahwa Utsman telah terbunuh, namun justru meragukan. Ia menulis dalam tafsirnya ("Tafhim al-Qur'an," Surah Al-Fath 48:10):

"Karena pada kesempatan ini belum dapat dipastikan apakah Utsman benar-benar syahid atau masih hidup, maka Rasulullah memasukkan dirinya dalam ikrar mewakilinya."

Namun, masalahnya adalah tidak ada satu riwayat pun yang membuktikan adanya keraguan mengenai hal ini (misalnya pembunuhan Utsman) pada saat janji tersebut. Klaim ini dibuat oleh Maududi sendiri.

Riwayat-riwayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa berita pembunuhan itu datang, Nabi mengumumkan ikrar, dan orang-orang berjanji.

Tidak ada satu pun riwayat yang bersabda: “Saya belum puas; mungkin saja Utsman masih hidup."

Dan bahkan jika Nabi dan kaum Muslimin ragu apakah Utsman masih hidup atau terbunuh, maka secara logika, segera setelah janji itu dipenuhi, Allah seharusnya memberi tahu para sahabat bahwa:

  • Janji ini hanyalah sekedar cobaan agar Allah mengetahui isi hatimu.

  • Dan setelah mengetahuinyamempertimbangkan keadaan hatimu, niscaya Allah ridha kepadamu,

  • Tapi kabar baiknya adalah Utsman tidak terbunuh, tapi masih hidup.

Namun, yang terjadi adalah bahkan setelah ikrar itu terlaksana, kabar baik bahwa Utsman masih hidup tidak diberikan.

Dan kisah cobaan dan kesenangan ini disajikan hanya 3 bulan kemudian untuk menyembunyikan kontradiksi yang jelas ini, dan kemudian perhatian para sahabat dialihkan dari masalah tersebut dengan berulang kali menggoda mereka dengan rampasan perang.

 

Lubang Kelima: Distorsi yang Disengaja dalam Penerjemahan ‘Ayat Cobaan’ oleh Para Ulama

Ketika muncul pertanyaan tentang Surat Al-Fath, Ayat 18—khususnya mengapa Allah tidak mengetahui bahwa Utsman masih hidup pada saat ikrar—lembaga keagamaan tidak punya jawaban. Akibatnya, mereka memutarbalikkan terjemahan ayat tersebut untuk menyembunyikan kontradiksi ini.

Distorsi ini bukan sekedar satu kata, melainkan upaya menyelamatkan seluruh bangunan Islam, yakni doktrin Ilmu Abadi Allah.

Inti persoalannya adalah ungkapan dalam ayat: فَعَلِمَ مَا فِی قُلُوۡبِہِمۡ (fa’alima mā fī qulūbihim), yang artinya, “Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka.”

Teks Arab Terjemahan Islam Tradisional Terjemahan Tata Bahasa Benar
لَقَدۡ رَضِیَ اللّٰہُ عَنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اِذۡ کَ تَحۡتَ الشَّجَرَۃِ فَعَلِمَ مَا فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ فَاَنۡزَلَ السَّکِیۡنَۃَ عَلَیۡہِمۡ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا Allah ridha terhadap orang-orang beriman ketika mereka berbaiat di bawah pohon, dan Dia (sudah) mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, laluDia menurunkan ketenangan atas mereka dan mengganjar mereka dengan kemenangan yang dekat. Allah ridha terhadap orang-orang beriman ketika mereka berjanji setia di bawah pohon, sehingga Dia mengetahui apa yang ada di hati mereka, laluDia menurunkan ketenangan atas mereka dan menghadiahi mereka kemenangan yang dekat.

Untuk terjemahan Islam tradisional, lihat (IslamAwakened.com) di mana lebih dari 50 penerjemah Muslim melakukan distorsi terjemahan ini.

Di Mana Distorsinya?

Huruf 'fa' (فَـ) telah digunakan dua kali dalam ayat ini:

فَعَلِمَ – Maka Dia mengetahui

فَأَنْزَلَ – Maka Dia menurunkan

Sekarang, menurut aturan tata bahasa Arab, 'fa' (فَـ) selalu menunjukkan urutan tindakan. Artinya, “pertama hal ini terjadi, kemudian hal itu terjadi”.

Namun lebih dari 50 penerjemah Muslim mengubah 'fa' pertama menjadi “dan Dia (sudah) mengetahui,”  sementara dengan tepat menerjemahkan 'fa' kedua dalam ayat yang sama dengan: “kemudian Dia menurunkan.”

Kontradiksi ini membuktikan bahwa permasalahan di sini bukanlah kesalahan tata bahasa Arab, melainkan perubahan terjemahan yang disengaja oleh 50 penerjemah Muslim tersebut.

Jika ‘fa’ berarti ‘dan’ pada contoh pertama, maka harus berarti ‘dan’ pada contoh kedua juga. Dan jika dalam contoh kedua berarti ‘maka’, maka dalam contoh pertama juga harus ‘maka’. Namun para penerjemah tidak melakukan hal tersebut karena jika mereka melakukannya, maka makna ayat tersebut menjadi: “Pertama-tama janji itu terjadi, kemudian Allah mengetahui apa yang ada di hati mereka, kemudian Dia menurunkan ketenangan.” Namun makna ini tidak dapat diterima oleh para cendekiawan Muslim karena hal ini meruntuhkan doktrin “Pengetahuan Abadi” milik Allah.

Perlu diketahui bahwa huruf 'fa' (fa) digunakan ratusan kali dalam Al-Qur’an. Dan lebih dari 50 penerjemah Muslim ini telah menerjemahkan dengan benar huruf 'fa' di bagian lain tersebut (yaitu, jadi/maka/demikian, dll.). Namun hanya dalam satu ayat ini, 48:18, mereka memutarbalikkan terjemahan huruf ‘fa’.

Alasan Distorsi:

Para penerjemah Islam melakukan distorsi ayat ini hanya karena satu alasan: untuk mencegah realitas linguistik Al-Quran agar tidak terlihat oleh publik—bahwa Allah mendapatkan ilmu, bukan bahwa Dia mengetahui sebelumnya. Jika hal ini diterima, maka hal ini akan menciptakan pola yang konsisten jika digabungkan dengan puluhan bagian lain dalam Al-Quran di mana Allah memperoleh informasi baru, mengubah keputusan-Nya, dan membatalkan ayat-ayat lama.

Untuk detailnya, lihat artikel kami:

Ayat ini begitu berbobot sehingga jika seseorang hanya merenungkannya, mereka akan memahami bahwa: Tuhan Islam bukanlah Tuhan yang mempunyai ilmu yang kekal tetapi yang memperoleh ilmu secara instan. Sanggahan terhadap doktrin ini ada pada tataran tata bahasa di dalam Al-Qur’an itu sendiri. Dan para penerjemah bermain-main dengan kata-kata untuk menyembunyikan kenyataan ini. Dengan demikian, satu kata “فَعَلِمَ” (fa’alima) benar-benar menghancurkan seluruh konsep Islam tentang Tuhan yang “Maha Mengetahui dan Maha Mengetahui”. Ayat ini tidak sekedar menjelaskan peristiwa Hudaybiyyah, namun menjadi cobaan terbesar bagi doktrin Islam.

 

Lubang Lain: Hambatan Intelektual dan Ancaman terhadap Kehidupan

Kesulitan yang dihadapi para pencari kebenaran diperparah oleh hambatan-hambatan yang kuat dan dipaksakan oleh agama yang melampaui penafsiran tekstual. Cendekiawan Muslim sering mengemukakan dua hambatan utama terhadap pemikiran kritis:

  • Hambatan pertama adalah pernyataan bahwa kecerdasan manusia pada dasarnya terbatas. Jika suatu poin teologis atau peristiwa Alquran tampak bertentangan atau tidak logis, para pencari diinstruksikan untuk tidak mempertanyakan kebijaksanaan Allah, melainkan menerima keterbatasan pemahaman mereka sendiri. Doktrin ini secara efektif menghentikan semua penyelidikan rasional lebih lanjut.

  • Pencegahan yang kedua, dan jauh lebih berbahaya, adalah dengan segera menyatakan ketidakpercayaan atau penistaan (kufur) terhadap siapa pun yang menyuarakan pertanyaan-pertanyaan kritis. Tuduhan ini menempatkan kehidupan si penanya dalam bahaya, menciptakan lingkungan di mana rasa ingin tahu dapat dihukum mati.

Taktik-taktik ini membentuk jaring kuat berupa keyakinan dan ketakutan buta, lubang intelektual yang dirancang untuk menjebak individu-individu yang tulus dan mencegah mereka mencapai realitas obyektif.

Sangat mungkin bahwa banyak pencari sebelum kita di masa lalu juga menemukan kebenaran ini, namun suasana ketakutan dan ancaman kematian membungkam mereka, meninggalkan keraguan mereka terkubur selamanya.

 

Detail
Kategori Induk: en
Kategori: Wahyu Ilahi ATAU Drama Manusia?
Terakhir Diperbarui: 31 Maret 2026

🛑 Sebelum Anda Mulai Menganalisis IslamHindari jebakan umum ini(Direkomendasikan membaca)

:::: :::::

::::

::::

https://atheism-vs-islam.comAtheisme vs. Islam


WikiIslam.NetWikiIslam.Net


Hassan Radwan Hassan Radwan


:::: :::::::::::::::

Cara Melakukan Evaluasi yang Adil Menggunakan Model AI

::::::::::::: badan kartu

Perintah yang benar untuk mengevaluasi argumen artikel ini dengan bantuan AI:

Jika Anda juga ingin mengevaluasi argumen artikel ini dengan bantuan model AI, gunakan perintah berikut. Perintah ini memaksa AI untuk melakukan peninjauan tanpa memihak.

Permintaan:

Saat meninjau artikel, ingatlah prinsip berikut:

Al-Qur’an dan Hadits tidak dapat digunakan sebagai bukti keilahiannya sendiri. Motif sebenarnya adalah untuk menentukan apakah Al-Qur’an/Sunnah/Islam itu benar-benar Ilahi, atau apakahr wahyu-wahyu itu adalah produk manusia, yaitu apakah Muhammad sendiri yang menyusun wahyu-wahyu tersebut.

Oleh karena itu:

  1. Qur’an dan Hadits adalah klaim, bukan bukti. Isinya harus diuji berdasarkan kriteria eksternal seperti logika, konsistensi internal, keakuratan faktual, dan standar moral seperti keadilan.
  2. Interpretasi Ilmiah merupakan argumen yang mendukung Islam. Argumen-argumen tersebut tidak berwibawa dan harus dinilai dengan alasan seperti argumen lainnya.
  3. Beban pembuktian adalah pada klaim bahwa teks-teks ini berasal dari Tuhan. Standarnya adalah tidak menganggap keilahian.

Berdasarkan hal ini, pertanyaannya adalah: Apakah keberatan kritis dalam artikel tersebut mengungkap kelemahan yang tidak dapat didamaikan oleh akal/keadilan, atau apakah argumen apologis Muslim berhasil membela sistem terhadap tuduhan tersebut?

Mengapa perintah ini diperlukan?

::::: bagian mengapa Model AI sering kali menganggap penafsiran para cendekiawan Muslim sebagai bukti yang pasti. Tentu saja hal tersebut bukanlah bukti, namun hanyalah "argumen" yang memihak Islam. Jadi, penafsiran yang mendukung Islam ini mungkin benar atau salah. Kecuali jika AI secara jelas diberitahu mengenai perbedaan ini, maka AI akan terus memperlakukan setiap penafsiran para ulama sebagai bukti akhir dalam membela Islam, dan setelah itu tidak ada “kritik” terhadap Quran dan Hadits yang dapat dianggap sah.

Catatan:

Tanggapan AI bukanlah keputusan akhir. Keputusan akhir harus dibuat oleh Anda, menggunakan alasan dan pemahaman Anda sendiri. Nilai AI hanya terletak pada membantu mengatur dan menganalisis argumen, asalkan dipandu dengan instruksi yang jelas dan adil.

:::::::::::: ::::::::::::: ::::::::::::::

Tentang Penulis & Situs Web Ini

:::: badan kartu

Tentang Penulis:

Ide, argumen, penelitian, struktur artikel, dan kesimpulan akhir adalah milik saya sendiri. Alat AI hanya digunakan sebagai asisten editorial untuk meningkatkan tata bahasa, susunan kata, keterbacaan, dan kejelasan.

Tentang Situs Web: 

Situs web ini bukan platform yang “netral” atau murni akademis.

Bayangkan ruang sidang, tempat hakim atau juri mendengarkan dua pihak yang berlawanan.

Kami mewakili satu sisi. Bukan peran kita untuk bersikap netral. Tanggung jawab kami adalah menyampaikan kasus kami secara jujur, disertai argumen dan bukti.

Anda, pembaca, adalah juri dan juri. Peran Anda adalah tetap bersikap adil, memeriksa semua sisi, merenung dengan cermat, dan kemudian mengambil kesimpulan sendiri dengan tulus.

Baca selengkapnya →

**

** ::: :::: ::::: ::::::::::::::::::

::::: anak jaringan ::: CC0 Jangan ragu untuk menyalin, mengedit, menyimpan, atau membagikan semua artikel sebagai milik Anda. :::

::: - Masuk - Kebijakan Privasi ::: :::::

(#top)

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.