Ringkasan Cepat / TL;DR
Abstrak

Fisiologi kita telah BERKEMBANGAN untuk melepaskan hormon yang meningkatkan perasaan bahagia dan sejahtera ketika kita terlibat dalam interaksi sosial yang positif, seperti menunjukkan cinta, kebaikan, atau empati terhadap orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa moralitas mungkin memiliki komponen bawaan, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian ilmiah yang menyoroti dasar biologis perilaku moral:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780124201903000454{._3t5uN8xUmg0TOwRCOGQEcU target=“_blank” rel=“nofollow ugc noopener bukan rujukan”}

Abstrak

Apakah ada perasaan moral bawaan? Bukti ilmiah, mulai dari perkembangan anak, linguistik, dan ekonomi perilaku hingga ilmu saraf, psikologi moral, dan primatologi mengungkap dorongan universal yang membentuk arsitektur moral yang dipersiapkan secara biologis dalam sifat manusia. Perasaan moral bawaan ini mirip dengan kecenderungan bawaan terhadap penciuman atau bahasa dan menunjukkan bahwa manusia dilahirkan dengan prototipe perasaan yang memupuk kecemasan ketika mereka menyaksikan orang lain dalam kesusahan dan, dengan cara yang sama, meningkatkan perasaan positif ketika kesusahan tersebut diatasi. Memasukkan konsep perasaan moral bawaan ke dalam model kehidupan sosial dan politik kita akan meningkatkan analisis etika.

Tidak ada seorang pun yang perlu mengajari bayi tentang cara mencintai ibunya; itu muncul secara alami berkat pengaruh hormonal.

Kontak kulit-ke-kulit antara bayi baru lahir dan ibunya segera setelah melahirkan sangatlah penting dan bermuatan emosional bagi kedua belah pihak. Sentuhan dan suara Anda memberikan kenyamanan dan keamanan bagi bayi Anda, dan interaksi ini memicu pelepasan oksitosin dalam tubuh Anda.

Khususnya, melahirkan dan menyusui menyebabkan peningkatan kadar oksitosin yang signifikan pada wanita, sehingga meningkatkan ikatan ibu dan perilaku pengasuhan.

Oksitosin, sering disebut sebagai “hormon cinta”, memainkan peran penting dalam menumbuhkan keterikatan antara orang tua dan anak mereka. Meskipun pada awalnya diyakini bahwa hanya ibu yang mengalami lonjakan kadar oksitosin saat melahirkan dan menyusui, penelitian menunjukkan bahwa ayah juga menunjukkan perubahan hormonal serupa ketika mereka melakukan aktivitas yang meningkatkan ikatan dengan anak-anak mereka.

Penelitian telah mengungkapkan bahwa ayah yang memiliki emosi tinggi menunjukkan peningkatan kadar prolaktin, hormon yang biasanya dikaitkan dengan menyusui dan kepuasan seksual, dan vasopresin, hormon yang terkait dengan ikatan dan respons stres pada ibu. Temuan ini menunjukkan bahwa ayah yang berpartisipasi aktif dalam mengasuh anak dapat mengalami perubahan hormonal seperti yang dialami ibu.

Namun, sejauh mana perubahan hormonal tersebut terjadi bergantung pada tingkat kedekatan dan interaksi antara ayah dan anak. Misalnya, ketika seorang anak tidur dengan orang tuanya, pengenalan dan respons ayah terhadap tangisan bayi, serta interaksi yang menyenangkan di antara keduanya, semuanya berkontribusi untuk memperkuat ikatan mereka. Sebaliknya, ketika kedekatan fisik tidak ada, efek peran sebagai ayah akan berkurang.

Ketika individu menjadi dewasa, pedoman moral mereka tidak lagi hanya ditentukan oleh faktor bawaan. Empati, pencerahan kepentingan pribadi, dan tekanan masyarakat menjadi semakin berpengaruh dalam membentuk nilai-nilai moral orang dewasa. Meskipun empati tetap menjadi aspek penting dalam perkembangan moral sepanjang hidup seseorang, signifikansinya agak berkurang seiring dengan adanya faktor-faktor lain.

Sebaliknya, bayi sangat bergantung pada perilaku instingtual seperti empati dan kepercayaan terhadap pengasuhnya, yang secara signifikan berdampak pada pembentukan moral awal mereka. Ketika anak tumbuh dan lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat, pengaruh eksternal secara progresif membentuk kode moral mereka. Pada akhirnya, interaksi antara kecenderungan bawaan dan faktor lingkungan berkontribusi pada sifat moralitas manusia yang kompleks dan dinamis.

Kami mohon kepada para pembaca untuk juga membaca artikel kami: Apa Tujuan Hidup Sebagai Seorang Atheis?

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.