Bentrokan antara Islam dan Barat hanyalah permukaan dari permasalahan yang jauh lebih besar. Tragedi sebenarnya adalah bagaimana sebagian umat Islam merampas kebebasan sekularisme dan liberalisme di masyarakat Barat dan memutarbalikkannya. Mereka tidak hanya menolak untuk berbaur; mereka memilih untuk tetap terpisah, membangun tembok perbedaan budaya dan agama yang ketat dibandingkan mengikuti nilai-nilai bersama yang menyambut mereka. Masyarakat Barat, dengan hati yang besar dan mengutamakan toleransi, membiarkan hal ini terus terjadi tanpa melakukan perlawanan, berpikir bahwa kebaikanlah yang akan menang.
Tapi apa yang terjadi? Dunia Barat kini terpecah, semangatnya hancur karena perpecahan dan ketidakpercayaan.
Dengan bersembunyi di balik multikulturalisme untuk mendorong ide-ide terbelakang, beberapa kelompok Islamis meninggalkan nilai-nilai yang telah memberi mereka tempat tinggal. Ini bukan sekadar penolakan untuk menyesuaikan diri; itu adalah langkah yang diperhitungkan dalam menggunakan kebebasan untuk memisahkan orang-orang. Dan itu berhasil. Hal ini melemahkan inti masyarakat sekuler, menciptakan kesenjangan yang dimasuki oleh kelompok sayap kanan, dan mengklaim bahwa merekalah yang dapat memperbaiki kekacauan tersebut. Mereka menunjuk pada kekacauan yang terjadi dan berkata, “Lihat? Kami benar,” sambil diam-diam bersiap untuk menghancurkan tidak hanya ekstremisme tetapi juga cita-cita terbuka dan liberal yang menyatukan kita.
Ketika kelompok sayap kanan menang, dan mereka akan menang jika hal ini terus berlanjut, maka ini bukanlah sebuah keadilan. Ini akan menjadi sebuah pukulan telak, tidak hanya menghancurkan ide-ide ekstremis namun juga sistem keadilan dan kebebasan yang rumit yang berusaha melibatkan semua orang. Umat Islam akan menghadapi dampak terburuknya, komunitas mereka disalahkan dan dibungkam. Namun kerusakannya tidak berhenti di situ. Kaum progresif, minoritas, dan impian akan dunia yang baik dan beradab semuanya akan runtuh di bawah gelombang nasionalisme yang penuh kemarahan. Kita sedang berlomba menuju masa di mana hanya kekuasaan yang penting, di mana “kekuatan membuat yang benar” mengatur segalanya. Pemimpin seperti Donald Trump? Itu baru permulaan.
Lihatlah India. Ini adalah pelajaran menyakitkan yang ditulis dengan darah dan abu.
Sekularisme tidak tumbang hanya karena ekstrimis Hindu. Negara ini hancur karena beberapa komunitas Muslim menolak untuk berkembang. Mereka berpegang teguh pada hak-hak khusus keagamaan, menolak perubahan, dan menjauhi nilai-nilai sekuler yang bisa menyatukan semua orang. Sikap keras kepala mereka memicu ketakutan di seluruh negeri. Ketakutan ini memperkuat nasionalisme Hindu, yang semakin kuat setiap kali tuntutan kelompok Islam dipenuhi. Kini, di India pada masa pemerintahan Modi, umat Islam yang pernah menyerukan syariah kini terdiam, suara mereka diremukkan oleh mayoritas yang mereka bantu bangkitkan. Di Kashmir, orang-orang yang menertawakan sekularisme kini meminta perlindungannya, bukan karena mereka mempercayainya, namun karena mereka putus asa. Mereka sendiri yang merusaknya, dan sekarang mereka tersesat tanpanya. Ini adalah patah hati yang mereka timbulkan pada diri mereka sendiri.
Sekarang pikirkan tentang konflik Israel-Palestina. Ini adalah kisah yang sangat mendalam.
Selama bertahun-tahun, masyarakat di negara-negara sekuler di seluruh dunia mendukung warga Palestina, hati mereka tergerak oleh perjuangan masyarakat untuk keadilan. Namun kelompok-kelompok seperti Hamas dan Hizbullah mengambil niat baik itu dan menggunakannya seperti senjata. Mereka bersembunyi di balik keluarga yang tidak bersalah, melancarkan serangan dari bayang-bayang, dan menggunakan kesabaran dunia untuk menutupi kekerasan yang mereka lakukan. Mereka tidak hanya mengkhianati kepercayaan pendukungnya; mereka menghancurkannya, meninggalkan mereka yang peduli merasa tertipu dan marah. Ketika kepercayaan tersebut runtuh, kelompok sayap kanan turun tangan, dengan lantang dan tidak peduli terhadap hak asasi manusia, sambil mengibarkan bendera keamanan. Kini Gaza dan Lebanon selatan berada dalam reruntuhan. Kehidupan orang-orang Palestina hilang, bukan hanya karena tindakan Israel tetapi karena apa yang disebut sebagai pelindung mereka bertindak tanpa kepedulian. Hilangnya Hamas dan Hizbullah, dan bersama mereka, beban moral dari dukungan yang pernah mereka dapatkan. Sekali lagi, kekuasaan menang, dan pihak yang tidak bersalah menderita.
Kisah ini terjadi dengan cara yang sama di mana pun, baik di Eropa, India, atau Timur Tengah:
Beberapa Muslim memutarbalikkan kebaikan nilai-nilai liberal untuk membuat orang terpecah belah. Masyarakat sekuler, yang terlalu lunak untuk bertindak, membiarkan kesenjangan semakin besar. Kelompok sayap kanan menyerbu masuk, berjanji untuk memperbaikinya tetapi malah menghancurkan segalanya. Dan pada akhirnya, kita semua harus menanggung akibatnya: Muslim, kaum progresif, minoritas, dan harapan akan dunia yang adil.
Ini bukan tentang kebencian. Ini adalah panggilan putus asa untuk bangun. Masyarakat liberal harus menemukan kekuatan untuk mempertahankan nilai-nilai mereka, bukan dengan keraguan namun dengan semangat dalam hati. Membiarkan intoleransi berlalu adalah cara tercepat untuk kehilangan segalanya. Jika kita tidak membela prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan bersama, kita akan menyerahkan dunia ini kepada mereka yang ingin menghancurkannya. Kita berada di ujung tanduk, dan pilihan ada di tangan kita: memperjuangkan cita-cita yang membangun dunia yang lebih baik, atau menonton saja.mereka mati karena kita tidak melakukan apa pun. Penderitaan yang dirasakan oleh mereka yang dikhianati, baik Muslim, kelompok minoritas, maupun masyarakat biasa, menuntut kita untuk bertindak sekarang.
