Ringkasan Cepat / TL;DR
Namun ilmu pengetahuan modern menceritakan kisah yang berbeda. Penelitian di bidang ilmu saraf, biologi evolusioner, dan psikologi menunjukkan bahwa naluri moral kita berakar pada kimia otak dan hormo...

Umat ​​beragama berpendapat bahwa moralitas sepenuhnya berasal dari agama. Mereka menyatakan bahwa bahkan masyarakat sekuler atau Barat secara diam-diam meminjam nilai-nilai moral mereka dari tradisi agama. Implikasinya sangat jelas, yakni menghilangkan agama, dan masyarakat kehilangan pedoman moralnya sepenuhnya.

Namun ilmu pengetahuan modern menceritakan kisah yang berbeda. Penelitian di bidang ilmu saraf, biologi evolusioner, dan psikologi menunjukkan bahwa naluri moral kita berakar pada kimia otak dan hormon, dan bukan pada perintah ilahi.

Sebelum kita menyelami apa yang dikatakan ilmu pengetahuan, ada baiknya kita memahami argumen agama dari sudut pandangnya sendiri. Ada dua hal yang harus jelas:

  1. Apa sebenarnya yang dimaksud para pemikir agama ketika berbicara tentang moralitas,

  2. Dan apa keberatan utama mereka terhadap sistem moral yang mengabaikan Tuhan.

Argumen Keagamaan: Moralitas Memerlukan Tuhan yang Nyata

Kebanyakan pemikir agama memulai dengan pernyataan yang lugas, yaitu tanpa Tuhan, moralitas tidak akan ada. Ini bukan pandangan pinggiran. Hal ini menjadi inti dari pendekatan banyak cendekiawan agama terhadap etika.

Untuk memperkuat argumen ini, mereka menarik perbedaan yang tajam antara dua jenis moralitas.

Moralitas obyektif, dalam kerangkanya, ada secara independen dari apa yang diinginkan atau disukai siapa pun. Itu tidak mengikuti selera, budaya, atau keadaan pribadi. Memang benar, seperti fakta matematis.

Moralitas subjektif, sebaliknya, hanyalah opini pribadi yang dibalut sebagai etika. Ini mencerminkan apa yang disukai atau tidak disukai seseorang atau budaya, tidak lebih.

Argumen agama kemudian mengikuti jalur logis yang bersih, yaitu hanya Tuhan yang dapat menjadi sumber moralitas objektif, karena hanya Tuhan yang sepenuhnya berada di luar preferensi dan sejarah manusia. Tanpa Tuhan, yang tersisa hanyalah moralitas subyektif, yang menurut mereka bukanlah moralitas yang nyata sama sekali.

Bagaimana Argumen Ini Digunakan dalam Praktek

Komentator Islam Daniel Haqiqatjou, yang menjalankan situs MuslimSkeptic, menjelaskan hal ini secara blak-blakan. Menulis tentang ateisme dan moralitas, ia berpendapat: (link):

Mayoritas “kritik” ateis yang diarahkan pada Islam dan agama pada umumnya bertumpu pada klaim moral. Namun tidak ada pembenaran atas hal ini dari orang yang berpikir. Bagaimana orang yang tidak memiliki landasan moral berani mengajukan argumen moral? Sederhananya, ada moralitas objektif dan ada moralitas subjektif. Anda dapat melihat bahwa ateis tidak mempunyai moralitas obyektif apa pun. Ateisme hanya dapat menghasilkan moralitas subjektif (pribadi). "Subjektif" berarti pendapat pribadi. "Tujuan" berarti kenyataan. Tidak ada pilihan ketiga. Misalnya, "merah adalah warna terbaik" adalah opini subjektif, sedangkan "2+2=4" adalah fakta objektif. Dengan kata lain, para ateis mengkritik Islam semata-mata berdasarkan pandangan subjektif dan pribadi mereka. Jadi ketika mereka mengatakan “Saya benci Islam karena umat Islam menyukai warna hijau dan saya lebih suka warna biru”, itu tidak ada bedanya dengan omong kosong yang sudah mereka katakan.

Maksudnya adalah bahwa kaum ateis tidak mempunyai hak untuk melakukan kritik moral terhadap agama, karena tanpa Tuhan, penilaian moral mereka tidak lebih penting daripada preferensi estetika. Mengatakan “praktik keagamaan ini kejam”, dalam pandangannya, secara logis setara dengan mengatakan “Saya lebih suka warna biru daripada hijau.”

Kebingungan Utama: TujuanMoralitas vs. MutlakMoralitas

Para pemikir agama membuat kesalahan kritis. Disengaja atau tidak, keduanya menggabungkan dua konsep yang sangat berbeda: moralitas objektif dan moralitas absolut. Kemudian mereka menggunakan penggabungan ini untuk membenarkan pandangan keagamaan mereka.

Ketika orang beragama mengatakan, “Tanpa Tuhan, tidak ada moralitas obyektif,” yang mereka maksud sebenarnya adalah, “Tanpa Tuhan, tidak ada moralitas yang absolut.” Ini bukanlah hal yang sama.

Apa Itu Moralitas Absolut?

Moralitas absolut mengacu pada sistem moral yang tetap sama:

  • di setiap era

  • di setiap tempat

  • di setiap masyarakat

  • dalam keadaan apa pun

Itu akan 100 persen benar, lengkap, dan tidak berubah. Tidak diperlukan revisi apa pun.

Ketika para pemikir agama mengatakan “tanpa Tuhan tidak ada moralitas obyektif,” mereka diam-diam menukar “abs” dengan “abs”.olute" untuk "objektif," berharap tidak ada yang menyadarinya.

Namun permasalahannya adalah, bahkan dalam pandangan mereka sendiri, klaim agama atas moralitas absolut langsung runtuh. Agama yang berbeda memiliki moralitas absolut berbeda yang secara langsung bertentangan satu sama lain. Dan dalam satu agama, sarjana yang berbeda, aliran pemikiran yang berbeda, dan periode sejarah yang berbeda telah menghasilkan kesimpulan moral yang sangat berbeda. Jika moralitas mutlak ada dan berasal dari Tuhan, Tuhan siapa? Versi yang mana? Interpretasi yang mana?

Jawaban jujurnya adalah bahwa moralitas absolut, sebagaimana didefinisikan oleh para pemikir agama, tidak ada dalam praktik di mana pun. Ini adalah klaim filosofis yang menguap saat Anda melihat dunia nyata.

Apa itu Moralitas Objektif?

Moralitas obyektif sama sekali berbeda. Artinya:

  • kerangka moral yang bukan sekedar opini pribadi

  • yang didasarkan pada sesuatu di luar preferensi individu

  • yang dapat diperiksa, diuji, diperdebatkan, dan disempurnakan

Itu tidak harus sempurna atau abadi. Itu harus lebih dari sekedar "Saya pribadi menyukainya."

Dan inilah pemahaman utama yang harus dihindari dengan susah payah oleh para pemikir agama: manusia dapat membangun moralitas obyektif tanpa Tuhan.

Moralitas objektif yang terbatas, mendekati kesempurnaan, dan benar-benar nyata dapat dibangun dari sifat manusia, akal manusia, empati manusia, dan pengalaman hidup bersama.

Moralitas Keagamaan Tidak Objektif. Itu Otoritarian.

Ada masalah kedua mengenai moralitas versi agama yang jarang disebutkan secara langsung. Moralitas agama sama sekali tidak objektif. Itu otoriter.

Alasan Anda dilarang melakukan sesuatu bukan karena hal itu merugikan atau merendahkan martabat manusia. Alasannya sederhana karena Tuhan berkata demikian. Itu adalah ketaatan pada kekuasaan, bukan penalaran moral. Mengenakannya dalam bahasa objektivitas tidak mengubah apa yang sebenarnya.

Apa Kata Sains Modern Tentang Asal Usul Moralitas

Jadi jika moralitas tidak berasal dari Tuhan, lalu dari mana datangnya?

Ilmu pengetahuan modern, khususnya biologi evolusi dan ilmu saraf, telah menjawab pertanyaan ini selama beberapa dekade. Jawaban singkatnya adalah naluri moral kita bersifat biologis. Mereka berevolusi. Mereka nyata, kuat, dan sudah ada jauh sebelum agama mana pun memberi nama pada mereka.

Mengapa Evolusi Membangun Rasa Moral

Manusia purba tidak dapat bertahan hidup sendirian. Mereka hidup berkelompok, dan kelompok yang bekerja sama, berbagi sumber daya, dan menjaga satu sama lain adalah kelompok yang bertahan. Selama jutaan tahun, individu yang memiliki empati, merasa tidak nyaman saat menyakiti orang lain, dan mampu percaya serta memiliki koneksi, memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan mewariskan gen mereka. Naluri tersebut menjadi bagian dari warisan biologis kita.

Namun kelangsungan hidup juga membutuhkan kepentingan pribadi. Anda perlu melindungi diri sendiri, anak-anak Anda, dan sekutu terdekat Anda, terkadang dengan mengorbankan orang lain. Naluri itu menjadi bagian dari diri kita juga.

Inilah sebabnya mengapa manusia tidak sekadar baik atau egois. Kami berdua, dan selalu begitu. Ketegangan antara merawat orang lain dan menjaga diri sendiri bukanlah sebuah kegagalan moral. Ini adalah warisan evolusioner kita.

Fondasi Biologis: Hormon dan Sifat Ganda Kita

Manusia tidak turun dari surga sebagai malaikat. Kita adalah makhluk biologis yang dibentuk oleh evolusi jutaan tahun. Tubuh kita mengembangkan sistem hormonal yang kompleks untuk menjamin kelangsungan hidup. Sinyal biologis ini menciptakan bahan mentah bagi perilaku moral kita.

Dorongan untuk Mempertahankan Diri

Naluri ini merupakan dasar evolusi. Ini melindungi individu dan kerabat dekat mereka. Dalam menghadapi bahaya, ia mengutamakan reaksi langsung, agresi, dan kepentingan pribadi.

Pada tingkat biologis, hal ini diatur oleh:

  • Kortisol dan Adrenalin: Hormon-hormon ini memicu respons "lawan atau lari". Mereka tidak mendikte moralitas. Mereka mengaktifkan naluri bertahan hidup yang mengutamakan diri sendiri.

Jika tidak dikendalikan oleh nalar atau empati, naluri ini dapat bermanifestasi sebagai penindasan, eksploitasi, dan kesediaan untuk mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi.

Dorongan untuk Empati dan Kerjasama

Evolusi juga mengutamakan kelangsungan hidup kelompok. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berkembang sendiri, kita mengembangkan kapasitas cinta kasih, kerja sama, dan pengorbanan.

Sisi pro-sosial dari sifat kita ini dipicu oleh zat kimia saraf tertentu:

  • Oksitosin dan Serotonin: Hormon ini mendorong tkarat, keterikatan jangka panjang, dan hubungan emosional. Meskipun hal-hal tersebut tidak menciptakan moralitas dengan sendirinya, hal-hal tersebut memungkinkan adanya kecenderungan empati yang kita sebut kasih sayang atau kemanusiaan.

Dorongan ini cenderung membuat kita merasakan penderitaan orang lain dan, dalam banyak kasus, mengorbankan kenyamanan diri sendiri demi kebaikan masyarakat.

Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dilakukan Hormon

Hormon apa yang disediakan:

  • Oksitosin memungkinkan empati pada semua manusia.

  • Melihat rasa sakit menghasilkan rasa kasih sayang pada hampir semua orang.

  • Ini adalah respons biologis universal. Ini adalah salah satu bentuk objektivitas.

Hormon apa yang tidak disediakan:

  • Kadar hormon tiap orang berbeda-beda.

  • Beberapa orang secara alami lebih berempati, yang lain kurang berempati.

  • Pengondisian sosial mengubah respons biologis ini.

Kesimpulannya adalah hormon membawa kita lebih dekat pada moralitas objektif, namun tidak menghasilkan moralitas absolut. Tidak ada sistem biologis yang mampu melakukannya. Dan itu tidak masalah, karena moralitas yang mutlak bukanlah sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan manusia.

Peran Pengaruh Sosial Eksternal

Penelitian menunjukkan bahwa manusia memiliki naluri moral dasar sejak awal kehidupannya. Bahkan tanpa pendidikan formal, bayi menunjukkan preferensi pada perilaku yang membantu dibandingkan perilaku yang merugikan. Seorang anak secara alami menjangkau sosok yang penuh kasih sayang dan mencerminkan kesusahan ibunya, menangis sebagai respons terhadap penderitaannya. Ini adalah respons emosional yang mendasar dan tidak diajarkan.

Ketika kita semakin dewasa, faktor-faktor eksternal mulai membentuk naluri mentah ini menjadi perilaku moral yang praktis. Melalui trial and error, membuat kesalahan, dan menghadapi konsekuensi, individu secara bertahap memperbaiki penilaian moral mereka.

Keluarga, masyarakat, pendidikan, dan agama semuanya berperan dalam mendefinisikan benar dan salah. Pengaruh eksternal ini adalah pedang bermata dua, karena dapat mempertajam dan memperluas rasa belas kasih manusia, namun juga dapat dengan mudah membatasi atau menekannya.

Peran Nalar: 

Jika moralitas manusia hanya tunduk pada hormon, maka manusia tidak lebih dari robot biologis.

Demikian pula, jika moralitas manusia hanya dipengaruhi oleh pengaruh sosial eksternal, maka manusia tidak lebih dari zombie biologis. 

Namun manusia bukan sekadar budak naluri atau pengaruh sosial eksternal. Sebaliknya, evolusi telah memberi kita, bersama dengan naluri, tingkat nalar yang lebih tinggi.

Alasan inilah yang memberi kita kemampuan untuk:

  • Belajar dari pengalaman kami

  • Perkirakan kemungkinan konsekuensi di masa depan

  • Batasi atau gunakan naluri egois kita ke arah yang benar, dan cegah empati menjadi pengorbanan buta

  • Dan juga menganalisis pengaruh sosial eksternal baik dan buruk. 

Jadi, moralitas sebenarnya merupakan dialog yang berkelanjutan antara naluri/pengaruh eksternal dan akal, dan bukan suatu perintah surgawi yang statis. Dengan akal kita, kita dapat mengendalikan naluri manusia dan menantang pengaruh sosial eksternal. Hal inilah yang membedakan kita dari binatang.

Penelitian ilmu saraf telah membuktikan bahwa bagian tertentu dari otak menjadi aktif selama pengambilan keputusan moral. Bagian emosional otak (sistem limbik) dan bagian logis (prefrontal cortex) saling bersaing. Artinya, pengambilan keputusan moral bukanlah perintah surgawi melainkan hasil perjuangan biologis dan logis yang terjadi di otak.

Alasan: "Pengambil Keputusan" Terakhir tentang Perilaku Kita

Fungsi dasar akal ibarat pengolahan data. Alasan tidak menghasilkan data sendiri. Sebaliknya, ia menerima masukan, memprosesnya, dan kemudian memberikan keluaran.

Sekarang pertanyaannya, dari mana akal mendapatkan masukannya? Ada dua sumber.

Sumber Pertama: Kecenderungan Naluri Internal Kita

Ini adalah berbagai kecenderungan naluriah dalam diri kita yang dipengaruhi oleh hormon. Misalnya, mereka termasuk:

  • Kecenderungan empati
  • Kecenderungan bertahan hidup dan egoisme
  • Perasaan lain seperti cinta, marah, takut, malu, penasaran, dll.

Semua ini berperan dalam keputusan moral.

Dari naluri, akal dapat menerima masukan yang “kontradiksi”. Misalnya kecenderungan empati mengatakan ingin menolong orang lain, sedangkan kecenderungan egois mengatakan memikirkan keuntungan diri sendiri. Nalar sekarang harus memutuskan masukan mana yang harus diprioritaskan.

Sumber Kedua: Lingkungan Eksternal, Pelatihan, dan Agama

Ini masukan yang kita terima dari pelatihan, lingkungan, masyarakat, keluarga, agama, dll. Yang penting di sini pun akal bisa menerima masukan yang “bertentangan”. Misalnya:

  • Orang-orang terdekat kita (misalnya keluarga mbara api) memberi tahu kita sejak kecil bahwa Allah itu ada
  • Belakangan dari masyarakat juga mendapat masukan bahwa menurut sebagian orang jauh, Allah itu tidak ada

Sekarang pertanyaannya, bagaimana akal memproses dua masukan yang kontradiktif ini?

Di sini hormon kembali berperan. Kami lebih mempercayai orang-orang yang:

  • Dekat dengan kita (keluarga, teman)
  • Berada dalam posisi otoritas (orang tua, guru, ulama)
  • Dengan siapa kita memiliki hubungan emosional
  • Yang kata-katanya kita dengar berulang kali

Hal ini diperlukan untuk kelangsungan hidup evolusioner. Mempercayai kerabat dekat penting untuk kelangsungan hidup. Oleh karena itu, akal akan lebih memberi `"bobot" pada perkataan orang-orang terdekat dan terpercaya dalam masukan data yang diterima dari masyarakat.

Ini bukan kesalahan alasan. Ia bekerja sesuai dengan rancangan evolusi.

Ini menjadi jelas dari pengalaman saya sendiri. Saat saya masih Muslim, saat itu alasan saya menerima masukan-masukan berikut:

  • Orang-orang terdekatku mengatakan bahwa Allah itu ada
  • Lingkungan saya mengatakan bahwa Islam itu benar
  • Saya diajari berulang kali bahwa hikmah Allah tidak terbatas dan kita tidak boleh menggunakan akal kita yang terbatas untuk menantang hikmah-Nya. 

Pada saat itu, saya telah memutuskan berdasarkan alasan bahwa:

  • Membunuh orang murtad itu benar
  • Perbudakan diperbolehkan
  • Karena Allah itu ada dan hikmah-Nya jauh melebihi pikiranku yang terbatas

Catatan: Ini juga merupakan keputusan alasan. Saya berpikir, merenung, dan menyimpulkan.

Namun kemudian ketika akal, yang melepaskan diri dari emosi seperti "takut" dan "takut", mulai mempertanyakan Allah dan “perkataan" kerabat dekat itu sendiri, maka situasinya berubah. Sekarang alasan saya menerima masukan baru:

  • Pertanyaan tentang keberadaan Allah itu sendiri
  • Kontradiksi dalam ajaran Islam
  • Sudut pandang yang berbeda dari orang lain

Sekarang alasan yang sama memproses data secara berbeda dari sebelumnya, dan menyimpulkan bahwa:

  • Membunuh manusia tak bersalah atas nama murtad adalah tindakan yang salah
  • Perbudakan adalah penghinaan terhadap kemanusiaan

Ketika seseorang merasa takut, bagian logis otak (prefrontal cortex) menjadi lumpuh dan naluri bertahan hidup mengambil alih. Namun rasa takut bukanlah satu-satunya hal yang melakukan hal ini. Pengabdian yang intens, dan bahkan cinta, dapat melewati atau melumpuhkan korteks prefrontal dengan cara yang sama seperti rasa takut.

Ketika seseorang berada dalam keadaan “penghormatan” terhadap makhluk, kekuatan, atau gagasan agung, bagian otak yang mengatur rasa diri menjadi tenang. Ketika diri menjadi kecil, seseorang kehilangan kemampuan bertanya, karena bertanya memerlukan kemandirian diri untuk bisa eksis.

Ketika Anda menerima suatu makhluk sebagai sesuatu yang “sempurna” atau “suci”, otak secara tidak sadar memutuskan bahwa “analisis” tidak diperlukan lagi. Otak kemudian mematikan logika sebagai cara untuk menghemat energi.

Dalam ketakutan, hormon stres seperti adrenalin dan kortisol sedang bekerja. Dalam rasa hormat dan cinta, banjir oksitosin dan dopamin datang. Oksitosin memaksa seseorang untuk percaya. Ketika hormon ini hadir dalam jumlah yang sangat besar, bagian otak yang mendeteksi penipuan atau kesalahan (bagian amigdala yang merasakan bahaya) melambat. Dalam kedua kasus tersebut, akibatnya sama: kelumpuhan akal.

Akal bukanlah budak permanen dari hormon atau pola asuh.

Melalui neuroplastisitas, kita dapat secara sadar memperbaiki jalur saraf kita dan terhindar dari “cuci otak.”

Contoh yang baik dari pengabaian secara sadar ini dapat dilihat di Sistem Peradilan. Tugas utama seorang hakim adalah mencapai "Netralitas Peradilan." Untuk melakukan hal ini, mereka harus:

  • Kenali Bias: Akui pola asuh, ideologi pribadi, dan perasaan naluriah mereka sendiri.

  • Pemfilteran yang Disengaja: Sengaja mengesampingkan perasaan pribadi untuk hanya memproses bukti hukum yang diberikan.

Sama seperti seorang hakim yang melatih dirinya untuk menjadi “penengah yang netral”, setiap individu dapat menggunakan akal sehatnya untuk mengaudit data internalnya dan memutuskan “masukan” mana yang valid dan mana yang hanya merupakan cerminan dari biologi atau lingkungan.

Pelajaran Penting:

Tanpa Tuhan, manusia tidak akan menjadi malaikat, dan juga tidak akan menjadi binatang.

Moralitas Absolut yang Lengkap tidak mungkin terjadi di dunia yang tidak sempurna ini. Tidak dalam agama, dan juga tidak dalam sistem sekuler.

Sistem sekuler tidak mengklaim Moralitas Absolut yang lengkap, dan itulah kekuatannya, karena kita hidup di dunia yang tidak sempurna di mana kesempurnaan 100 persen tidak mungkin dicapai. Dan umat manusia tidak membutuhkan moralitas yang 100 persen sempurna untuk bertahan hidup.

Hormon dan akal budi bersama-sama membawa kita lebih dekat pada Moralitas Objektif. Ini adalahinstrumen terbaik yang diberikan alam kepada kita, dan instrumen yang dapat terus kita sempurnakan.

Pada akhirnya, jangan takut untuk ragu. Itulah jalan kemanusiaan.

Argumentasi Umat Beragama: Mengapa Manusia Harus Mengorbankan Keinginannya Tanpa Ada “Akuntabilitas”

Argumentasi umat beragama adalah jika tidak ada kehidupan setelah mati dan tidak ada sistem pahala dan hukuman, maka seseorang tidak mempunyai alasan yang kuat untuk menjadi “baik” dengan mengorbankan hawa nafsunya. Jika seorang penindas menikmati hidup di dunia dan mati, dan orang yang tertindas menderita dan mati, dan akhirnya keduanya menjadi debu, maka moralitas bagaikan sebuah "beban tak berarti". Menurut agama, rasa takut kepada Tuhan akan "akuntabilitas" adalah satu-satunya kekuatan yang menghindarkan manusia dari kejahatan sekalipun "dalam kesendirian".

Jawaban Kami:

Bertentangan dengan pernyataan ini, moralitas tidak pernah terasa seperti “beban yang sia-sia” bagi kebanyakan orang. Menunjukkan empati dan membantu orang lain tidak hanya menguntungkan penerimanya. Ini juga menguntungkan si pemberi. Itu membawa kedamaian dan kebahagiaan. Kedamaian dan kebahagiaan ini bersifat langsung dan nyata, bukan janji setelah kematian.

Ketika kita melakukan kesalahan secara diam-diam, hati nurani kita tetap meminta pertanggungjawaban kita. Kami menanggung beban kesalahan itu. Kita tidak membutuhkan hakim ilahi untuk merasa bersalah. Rasa bersalah tertanam dalam diri kita.

Apa yang Diberitahukan Statistik Penjara kepada Kami

Jika rasa takut akan neraka adalah pendorong utama perilaku moral, maka orang-orang beragama harusnya terlalu banyak terwakili di antara warga negara yang paling taat hukum. Namun bukti menunjukkan sebaliknya.

Survei penjara menceritakan kisah yang menarik. Di Amerika Serikat:

  • 85 hingga 90 persen narapidana mengidentifikasi diri sebagai orang yang religius.

  • Atheis berjumlah kurang dari 1 persen dari populasi penjara.

Hal ini mengejutkan karena persentase ateis jauh lebih tinggi dari populasi umum Amerika (sekitar 4 hingga 7 persen, tergantung pada survei).

Angka-angka ini tidak membuktikan bahwa agama menyebabkan kejahatan. Itu merupakan kesimpulan yang salah. Namun hal ini benar-benar melemahkan klaim bahwa rasa takut akan neraka diperlukan dalam perilaku moral. Jika teror neraka adalah hal utama yang membuat orang-orang tetap berada dalam antrean, maka penjara akan penuh dengan ateis. Sebenarnya tidak. Mereka penuh dengan orang-orang beragama.

Argumentasi Umat Beragama: Permasalahan “Apakah” dan “Seharusnya”

Argumen ketiga dan terakhir dari umat beragama adalah:

Ilmu pengetahuan dan evolusi bisa memberi tahu kita apa yang “adalah” manusia, namun mereka tidak akan pernah bisa memberi tahu kita apa yang “seharusnya” menjadi manusia (seharusnya). Evolusi dapat memberi tahu kita bahwa belas kasih menguatkan suatu suku, namun tidak dapat membuktikan bahwa menunjukkan kasih sayang adalah sebuah “kewajiban moral”. Agama menyatakan bahwa “kewajiban” atau “perintah” ini hanya dapat datang dari wujud agung (Tuhan) yang melampaui materi.

Jawaban kita sama seperti yang telah kita kemukakan di atas, yaitu kecenderungan-kecenderungan yang timbul dari hormon-hormon yang diproduksi di dalam tubuh kita sebagai hasil evolusi dan nalar kita bersama-sama tidak hanya memberi tahu kita apa yang “seharusnya” kita sebagai manusia, namun kecenderungan-kecenderungan tersebut juga melangkah lebih jauh dan membimbing kita menuju apa yang “seharusnya” sehingga kita memperoleh “kedamaian dan kebahagiaan batin”, dan apa yang “tidak seharusnya” sehingga kita menghadapi penyesalan dan celaan kemanusiaan (hati nurani) yang ada dalam diri kita.

Jawaban Dunia Nyata: Jepang

Masalah yang seharusnya terdengar abstrak. Namun masyarakat manusia yang sebenarnya menjawabnya setiap hari.

Pertimbangkan Jepang. Kebanyakan orang Jepang tidak beragama. Mereka tidak percaya pada neraka atau surga. Namun Tokyo dikenal di seluruh dunia karena kejujurannya. Setiap tahun, warga menyerahkan jutaan dolar uang tunai yang hilang dan barang-barang hilang yang tak terhitung jumlahnya kepada polisi. Wisatawan rutin mendapatkan kembali barang-barang mereka yang terlupakan  (link berita).

Mengapa? Bukan karena takut akan Tuhan. Karena pendidikan yang baik, nilai budaya yang kuat, dan rasa tanggung jawab sosial bersama. Anak-anak Jepang diajarkan kejujuran sejak usia muda, dan pengajaran tersebut membentuk kapasitas alami mereka untuk berempati menjadi perilaku moral yang konsisten.

Yang “seharusnya” tidak memerlukan komandan ilahi. Hal ini muncul dari siapa kita (biologi) dan bagaimana kita dibesarkan (budaya). Jepang adalah bukti nyata.

Buddha Gautama: Revolusi Moral Non-Agama Tanpa “Dewa Surgawi”

Jika moralitas benar-benar membutuhkan hubungan ilahimmander, maka tradisi seperti Budha, yang tidak memiliki Tuhan pencipta, seharusnya tidak memiliki kerangka moral sama sekali. Tapi itu tidak benar. Sejarah memberi kita contoh tandingan yang kuat.

Buddha Gautama tidak percaya adanya Tuhan pencipta. Dia tidak pernah mengklaim bahwa malaikat membawakannya wahyu ilahi. Sebaliknya, ia mendasarkan ajarannya sepenuhnya pada penderitaan batinnya, empati terhadap orang lain, akal manusia, dan kontemplasi mendalam.

Pada masanya, moralitas agama yang dominan adalah agama Hindu yang menganggap sistem kasta sebagai sesuatu yang sakral dan abadi. Buddha menantang hal ini secara langsung. Beliau menunjukkan bahwa kemanusiaan dalam diri seseorang, bukan perintah ilahi, sudah cukup untuk membedakan yang baik dari yang jahat.

Apakah etika Buddha 100 persen sempurna? Tidak. Pengaruh budaya pada masanya meninggalkan jejak pada dirinya. Tapi justru itulah intinya. Prinsip-prinsip moral yang tidak sempurna ini, yang berakar pada hati nurani manusia, mengungkap kontradiksi moralitas agama yang “sakral” yang selama berabad-abad menutupi perbudakan, diskriminasi kasta, dan kekejaman lainnya.

Ingatlah bahwa moralitas yang 100 persen absolut tidak ada di dunia ini, karena kita tidak hidup di dunia yang 100 persen sempurna. Klaim agama bahwa moralitasnya 100 persen sempurna bukanlah sebuah kejujuran. Itu adalah ilusi dan penipuan.

Berikut beberapa pertanyaan langsung bagi mereka yang bersikeras bahwa moralitas tidak bisa ada tanpa Tuhan:

  1. Apakah Anda menerima bahwa Buddha Gautama adalah orang yang bermoral tinggi? Atau apakah Anda mengklaim bahwa agama Buddha tidak memiliki kerangka moral sama sekali, hanya karena para pengikutnya tidak percaya pada keberadaan Tuhan?

  2. Apakah Anda menerima bahwa Buddha mempunyai hak untuk mengkritik moralitas agama Hindu yang berlaku, termasuk sistem kasta, berdasarkan kemanusiaan dan nalarnya sendiri?

Jika jawaban Anda terhadap kedua pertanyaan tersebut adalah “ya”, lalu bagaimana salahnya mengkritik moralitas Islam berdasarkan nalar manusia?

Mengapa standar ganda ini? Buddha diberi hak untuk mengkaji Weda dan sistem kasta melalui akal budinya sendiri. Namun seorang atheis atau pemikir modern tidak diberi hak yang sama untuk mempertanyakan hukum Islam mengenai kemurtadan, perbudakan, dan penculikan perempuan.

Sikap ini merupakan kemunafikan dan standar ganda yang paling buruk. Jika akal manusia dapat menjadi tolak ukur dalam mengkaji agama Hindu, maka akal budi juga mampu untuk menguji Islam atau agama lain. Tidak ada pengecualian khusus.

Kata Penutup

Moralitas agama sebenarnya diciptakan oleh manusia itu sendiri. Ia hanya diberi label “suci” sehingga tidak dapat dipertanyakan lagi. Tapi semuanya bisa dipertanyakan. Semuanya patut dipertanyakan.

Mari kita rangkum secara singkat apa yang telah kita bahas:

  • Para pemikir agama mengacaukan moralitas absolut (yang tidak ada) dengan moralitas objektif (yang dapat dibangun manusia).

  • Naluri moral kita berakar pada evolusi dan hormon, bukan perintah ilahi.

  • Nalar, pola asuh, dan budaya membentuk naluri mentah ini menjadi etika praktis.

  • Rasa takut akan neraka tidak bisa menghasilkan perilaku moral, seperti yang ditunjukkan oleh statistik penjara.

  • Masalah yang seharusnya dijawab dengan contoh nyata seperti Jepang, di mana warga negara yang tidak beragama menunjukkan kejujuran yang luar biasa.

  • Buddha, tanpa Tuhan pencipta dan tanpa wahyu, membangun kerangka moral yang menantang ketidakadilan pada masanya.

Himbauannya, pada akhirnya, mohon jangan mencekik kemanusiaan dan nalar diri sendiri demi kehormatan agama atau yang disebut dengan hikmah Ilahi. Jalan mencari kebenaran itu sulit. Ini meminta kita untuk mempertanyakan apa yang diajarkan kepada kita sebagai anak-anak. Ini meminta kita untuk duduk dengan ketidakpastian. Namun itulah jalan yang membawa kita keluar dari kota ketakutan dan menuju cahaya kesadaran.

Harap diingat bahwa kemanusiaan mendahului semua agama. Alasan kita sendiri adalah panduan terbesar kita. Percayalah.

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.