Ringkasan Cepat / TL;DR
"Perang adalah tipu daya (alḥarb khidʿa)." (; juga dalam berbagai riwayat Bukhari dan Muslim)

Doktrin Syiah taqiyya sering dikritik oleh Sunni karena mengizinkan disimulasi (menyembunyikan keyakinan seseorang) di bawah penganiayaan. Secara historis, ulama Sunni menuduh Muslim Syiah menggunakannya untuk melemahkan pemerintahan Sunni. Namun ironisnya, sumber-sumber klasik Sunni sendiri memuat preseden dan keputusan yang membolehkan penipuan terhadap non-Muslim, khususnya dalam konteks konflik. Ini termasuk pernyataan kenabian yang terkenal:

“Perang adalah tipu daya (al-ḥarb khidʿa).” (Sahih al-Bukhari 3030; juga dalam berbagai riwayat Bukhari dan Muslim)

Para ideolog Islam radikal saat ini menafsirkan hal ini secara luas. Mereka memperlakukan hubungan dengan non-Muslim sebagai sebuah kondisi perjuangan yang tiada henti, bahkan tanpa adanya permusuhan terbuka, dan dengan demikian membenarkan penipuan di masa damai.

Prototipe: Pembunuhan Ka’b ibn al-Ashraf

Contoh yang paling sering dikutip adalah pembunuhan penyair Yahudi Ka’b ibn al-Ashraf. Dia adalah anggota Bani Nadir yang menikmati perlindungan berdasarkan Konstitusi Madinah.

Sumber primer (Sirat Rasul Allah oleh Ibnu Ishaq/Ibn Hisham, Sahih al-Bukhari 4037Sunan Abi Dawud 3000) menceritakan hal berikut:

  • Setelah kemenangan umat Islam di Badar, Ka’b menyusun puisi yang meratapi kematian orang Quraisy dan menghasut mereka untuk melawan umat Islam.
  • Muhammad dilaporkan bertanya, “Siapa yang akan menyingkirkan Ka’b ibn al-Ashraf dariku, karena dia telah merugikan Allah dan Rasul-Nya?”
  • Muhammad ibn Maslama mengajukan diri tetapi meminta, “Ya Rasulullah, kami harus berbohong kepadanya.” Nabi menjawab, “Katakan apa yang kamu suka. Kamu bebas dalam hal ini” (atau dalam beberapa varian: “Kamu boleh mengatakan apa pun yang ingin kamu katakan”).

Ibnu Maslama dan sekelompok kecil kemudian melakukan hal berikut:

  • Mereka berpura-pura kecewa terhadap Muhammad dan mengkritiknya.
  • Mereka mendapatkan kepercayaan Ka’b dengan mengeluh tentang beban ekonomi dalam mendukung para emigran Muslim.
  • Mereka memancingnya keluar pada malam hari dengan dalih percakapan pribadi dan pinjaman.
  • Mereka membunuhnya dengan pedang.

Pada saat itu, tidak ada pejabat yang menyatakan perang antara kaum Muslim dan Banu Nadir. Konstitusi Madinah berlaku, dan Banu Nadir terus hidup damai di Madinah selama 18–20 bulan sampai mereka diusir pada tahun 4 H karena insiden terpisah.

Sumber-sumber Muslim klasik menggambarkan hasutan Ka’b sebagai pelanggaran perjanjian dan tindakan perang, namun metode tersebut secara eksplisit mengandalkan penipuan selama periode perdamaian formal.

Penipuan di Medan Perang vs. Pembunuhan Politik di Masa Damai

Penipuan dalam pertempuran terbuka bersifat universal lintas budaya dan agama.

Apa yang membedakan preseden Ka’b dalam literatur Sunni klasik adalah bahwa hal ini terjadi di luar medan perang, selama perjanjian perdamaian formal, terhadap warga sipil yang dilindungi oleh perjanjian, dan dengan menggunakan kebohongan untuk mengeksploitasi keramahtamahan dan melucuti senjata sasaran.

Tapi inilah masalahnya:

  • Tidak ada catatan dalam sumber awal dimana Muhammad mengirim delegasi ke Banu Nadhir, suku Ka’b sendiri, untuk menuntut agar mereka mengambil tindakan terhadapnya karena melanggar perjanjian.

  • Menurut Konstitusi Madinah, perselisihan semacam itu seharusnya diselesaikan melalui perundingan atau mediasi suku terlebih dahulu.

Sebaliknya, Muhammad mengabaikan semua langkah formal tersebut dan langsung memerintahkan pembunuhan Ka’b.

Hal ini menunjukkan dengan kuat bahwa tidak ada dasar hukum formal atau argumen yang kuat terhadap Ka’b berdasarkan pelanggaran perjanjian. Pembenaran yang digunakan terutama adalah ancaman atau pelanggaran yang dirasakan dari puisinya, bukan pelanggaran pakta Medina yang dapat ditindaklanjuti dan dikonfirmasi.

Selain itu, hal ini merupakan praktik umum yang dilakukan Muhammad seperti yang dapat kita lihat dalam beberapa kasus lain juga. 

Misalnya, pembunuhan penyair Yahudi Abu Afak secara konsisten dilaporkan dalam sumber-sumber sejarah Islam utama (Ibn Isḥāq, Al-Wāqidī) sebagai pembunuhan politik yang dilakukan di malam hari. Dia tidak terlibat dalam perang apapun melawan komunitas Muslim, tapi dia secara politik menentang Muhammad.

Ibn Ishaq memberikan baris-baris berikut yang dikaitkan dengan Abu Afak (seorang penyair tua Yahudi dari Banu ʿAmr b. ʿAwf yang mengkritik Muhammad):

طَالَ مَا عَاشَ فِي الْحَيَاةِ حِبْرٌ وَأَنَا لِمَا أَرَى مِنْ أَمْرِكُمْ أَعْجَبُ أَلَا مَنْ كَانَ لَهُ عَقْلٌ يَعْقِلُ يَتَّبِعُ رَجُلًا مِنْ تِهَامَةَ مُهَاجِرًا لَيْسَ بِذِي فَضْلٍ وَلَا مَالٍ وَلَا حَسَبٍ أَمَا تَعْجَبُونَ مِنْ رَجُلٍ يَأْتِيكُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَأَنْتُمْ أَهْلُ وَادٍ وَاحِدٍ

Terjemahan bahasa Inggris standar (Guillaume, hal. 675):

“Lama sekali aku hidup bersama masyarakat, dan belum pernah aku melihat suatu kaum yang lebih patuh kepada pemimpinnya daripada kamu, Atau lebih terpecah belah oleh seorang pengendara (yakni Muhammad) yang datang dari jauh, Mengatakan ‘Ini halal dan ini haram’ Kepada suatu kaum yang sebelumnya tidak beragama.”

Al-Waqidi mencatat (tautan):

Ketika Abu Afak membacakan puisinya, Rasulullah (Muhammad) berkata: "Siapa yang akan menangani orang jahat ini untukku?" Sālim bin ʿUmayr berkata: "Aku akan melakukannya, ya Rasulullah," dan dia bersumpah untuk membunuhnya. Sālim bin ʿUmayr keluar dan mengawasi sampai malam dengan panas terik, dan Abu Afak sedang tidur di luar di halaman rumahnya di atas kasurnya. Dia adalah seorang lelaki yang sangat tua yang telah mencapai usia seratus dua puluh tahun. Maka dia menaruh pedang itu di hatinya dan menekannya dengan kuat hingga pedang itu menembus kasurnya dan membunuhnya. Tidak ada yang merasakannya sampai istrinya mendengar suaranya (terkesiap).

Operasi sembunyi-sembunyi ini memastikan terjadinya tidak ada perlawanan, tidak ada peringatan, dan tidak ada saksi terhadap pembunuhan tersebut, sehingga dengan tegas menjadikan tindakan tersebut sebagai Ightiyāl (pembunuhan) dan bukan pertempuran terbuka.

Kerangka Hukum Klasik: Dar al-Islam vs. Dar al-Harb

Para ahli hukum Sunni klasik (di keempat mazhab) membagi dunia menjadi dua kategori:

  • Dar al-Islam: Wilayah di bawah kedaulatan Muslim di mana Syariah berlaku.
  • Dar al-Harb: Semua wilayah lainnya, secara harfiah berarti “tempat tinggal perang”.

Di Dar al-Harb, banyak keputusan yang bersifat permusuhan. Penipuan, penyergapan, dan pelanggaran perjanjian (jika menguntungkan secara strategis) sering kali diperbolehkan karena perdamaian permanen dengan non-Muslim tidak mungkin terjadi sampai mereka tunduk (Quran 8:39, 9:29). Gencatan senjata (hudna) adalah jeda taktis sementara, bukan perdamaian sejati. Durasi maksimumnya adalah 10 tahun di sebagian besar pandangan, dan durasi tersebut hanya dapat diperbarui jika umat Islam tetap lemah.

Namun, beberapa ulama (misalnya al-Ghazali, al-Nawawi) membatasi “perang adalah tipu daya” pada konteks militer yang sebenarnya. Berbohong dalam transaksi biasa di masa damai dilarang.

Namun demikian, penafsiran garis keras dan Salafi (yang mengacu pada Ibnu Taimiyah, kemudian para ulama Salafi, dan para radikal modern seperti Sayyid Qutb, Abdullah Azzam, dan ideolog ISIS) memperlakukan seluruh dunia non-Muslim sebagai Dar al-Harb secara permanen. Bagi mereka, preseden Ka’b menunjukkan bahwa operasi individu atau rahasia terhadap “musuh Islam” membenarkan penipuan bahkan berdasarkan perjanjian kewarganegaraan atau visa modern.

Penerapan Radikal Saat Ini

Muslim moderat dan cendekiawan moderat kontemporer menolaknya. Mereka berpendapat bahwa negara-negara Barat berada di bawah Dar al-’Ahd atau Dar al-Sulh (tempat perjanjian), di mana perjanjian kewarganegaraan harus dihormati.

Namun jaringan radikal secara eksplisit menyebut “perang adalah penipuan” dan model Ka’b:

  • Buku pedoman Al-Qaeda (misalnya, Manajemen Kebiadaban) dan propaganda ISIS merujuk pada pembunuhan Ka’b untuk mengizinkan identitas palsu, pura-pura tidak berlebihan, dan serangan mendadak.
  • Para jihadis Eropa (misalnya penyerang Charlie Hebdo, beberapa pelaku Bataclan) menjalani kehidupan sekuler sambil merencanakan serangan. Inilah jenis disimulasi radikal jangka panjang yang dihasilkan dari preseden-preseden ini.

Dalam pandangan dunia radikal, tidak ada perdamaian sejati yang tercipta bagi non-Muslim. Kewarganegaraan, visa, dan janji kesetiaan publik hanyalah persamaan modern dari kebohongan Muhammad ibn Maslama kepada Ka’b. Mereka menjadi alat taktis dalam perang yang sedang berlangsung.

Kesimpulan

Pernyataan kenabian “perang adalah tipu daya” dan preseden Ka’b ibn al-Ashraf adalah otentik dan tidak terbantahkan dalam sumber-sumber Sunni. Keilmuan Muslim moderat membatasi mereka pada strategi masa perang yang sah. Namun selama suara-suara radikal yang berpengaruh menafsirkan dunia non-Muslim sebagai Dar al-Harb yang abadi, teks-teks ini akan terus dijadikan senjata untuk membenarkan penipuan, infiltrasi, dan kekerasan, bahkan di negara-negara di mana umat Islam hidup aman dan sejahtera.

Memahami ketegangan doktrinal ini sangat penting bagi badan keamanan Barat, pembuat kebijakan, dan reformis Muslim.

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.