Ringkasan Cepat / TL;DR
Jika Tuhan tidak ada, apa tujuan hidup? Tanpa kekuatan yang lebih tinggi, bagaimana manusia bisa menjalani kehidupan yang bermakna?

Banyak umat Islam bertanya kepada kita:

Jika Tuhan tidak ada, apa tujuan hidup? Tanpa kekuatan yang lebih tinggi, bagaimana manusia bisa menjalani kehidupan yang bermakna?

Ini adalah pertanyaan penting. Jawabannya tidak datang dari langit tetapi dari sifat, ilmu pengetahuan, dan akal manusia kita sendiri.

Alam dan evolusi tidak memiliki tujuan kosmik.

Alam semesta dimulai dengan Big Bang. Bintang-bintang terbentuk, bertabrakan, dan binasa. Selama miliaran tahun, tidak ada kehidupan di Bumi. Ketika kehidupan akhirnya muncul, hal ini bukan disebabkan oleh suatu rencana besar atau tujuan ilahi, melainkan karena proses kimia dan fisika.

Evolusi juga tidak mempunyai 'target' atau 'tujuan'. Ini adalah proses buta yang hanya menguntungkan makhluk hidup yang bertahan hidup di lingkungannya dan mewariskan gennya ke generasi berikutnya. Hal ini tidak melibatkan tujuan moral, eksistensial, atau ‘perbaikan manusia’. Evolusi tidak merancang kita untuk menjadi ‘baik’ atau ‘bermakna’, namun untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

Namun, bagaimana kita mendapatkan tujuan?

Hal baiknya adalah kita tidak memerlukan perintah ilahi atau janji surga. Selama jutaan tahun, evolusi memberi dua hal pada tubuh manusia:

  1. Hormon
  2. Otak dengan banyak kecerdasan

Kedua sistem biologis evolusioner ini mendorong kita untuk terhubung dengan orang lain, bekerja sama, dan mencapai sesuatu.

Dalam sistem ini, beberapa hormon dan zat kimia saraf utama memainkan peran berikut:

  • Oksitosin:
    Saat Anda memeluk seseorang, membantu orang asing, atau tertawa terbahak-bahak bersama teman, otak Anda melepaskan oksitosin, yang sering disebut ‘hormon cinta’. Bahan kimia ini menghubungkan kita satu sama lain dan membuat kita berbelas kasih dan melindungi orang lain. Oleh karena itu timbullah ‘tujuan’ dalam diri kita, seperti menjaga keluarga, menjaga persahabatan, bahkan rasa kasihan pada orang asing.
  • Serotonin:
    Pernahkah Anda merasa sangat marah saat melihat ketidakadilan dilakukan terhadap seseorang? Itulah serotonin yang bekerja. Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kadar serotonin normal lebih siap untuk menentang ketidakadilan dan memberikan pelajaran kepada mereka yang melanggar aturan sosial. Pemahaman kita tentang benar dan salah bukan sekedar gagasan keagamaan; merupakan kenyataan bahwa kita secara alami cenderung pada ‘tujuan’ mencari keadilan.
  • Dopamin:
    Saat Anda membantu seseorang, mencapai tujuan, atau melakukan sesuatu yang berarti, otak Anda melepaskan dopamin, yang sering disebut ‘hormon penghargaan’. Inilah sebabnya melakukan perbuatan baik memberikan kepuasan seperti itu. Otak Anda benar-benar mendorong Anda untuk terus melakukan apa yang bermanfaat bagi Anda dan orang lain. Kita tidak membutuhkan surga atau imbalan ilahi untuk kepuasan dan kebahagiaan. Otak kita secara alami memberi penghargaan kepada kita ketika kita hidup dengan cara yang meningkatkan diri kita sendiri dan komunitas kita.

Hormon-hormon ini memberi kita potensi mentah** untuk berhubungan dengan orang lain, bekerja sama, membantu, dan meraih prestasi.

Ketika kita berbuat baik untuk orang lain, seringkali kita sendiri yang menemukan kepuasan dan kebahagiaan. Sehingga pada akhirnya memberikan kita motivasi untuk mencari tujuan hidup, yang secara tidak langsung membantu menghasilkan kebahagiaan dalam hidup kita dengan membantu orang lain secara langsung. 

Dari manakah tujuan dan makna sebenarnya berasal?

Biologi memberi kita bahan mentah berupa hormon, yaitu rasa empati, motivasi, dan penghargaan.

Dan upaya memberikan bahan mentah ini bentuk yang bermakna dan moral dilakukan oleh akal manusia, pendidikan, budaya, dan nilai-nilai bersama (kecerdasan manusia).

Artinya, ‘tujuan’ berbuat baik, mencintai, dan mencari keadilan sebenarnya sudah ada sebagai bahan mentah dalam biologi kita, bukan sebagai perintah agama.

Tujuan kita terwujud saat demi saat.

Senyum pertama bayi, menyelesaikan masalah, membantu orang yang kesusahan, menyaksikan indahnya matahari terbenam.

Kita tidak membutuhkan surga yang tak terbatas, karena kita menemukan makna tak terbatas dalam momen-momen yang terbatas.

Agama tidak sengaja memonopoli.

Tujuan bukanlah sesuatu yang harus ditunggu; itu adalah sesuatu yang kita wujudkan setiap hari. Baik itu cinta, ciptaan, atau sains, kita dapat membuat hidup kita bermakna. Dan kita tidak memerlukan buku-buku kuno atau ketetapan ilahi; pikiran, hati, dan dunia kita sendiri saja sudah cukup. Tanpa janji surga pun kita bisa beramal shaleh, bahkan mungkin lebih ikhlas karena hidup kita hanya sekali.

Apa tujuan hidup menurut Tuhan?

Menurut Islam, Tuhan menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya (QS Adh-Dhariyat: 56).

Namun klaim ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Jika Tuhan itu mandiri (Al-Samad), mengapa Dia'perlu' ibadah? Dan jika ibadah tidak memberi manfaat kepada-Nya, lalu mengapa banyak pujian yang dituntut (Catatan: Menyembah Allah tidak lain adalah MEMUJINYA)?

Lebih jauh lagi, tuntutan akan pujian ini tidak hanya terbatas pada manusia, namun juga meluas, dan Tuhan mempunyai para malaikat yang terus-menerus terlibat dalam pujian-Nya. Manusia shalat lima waktu, namun menurut Islam, para malaikat tetap sibuk memuji Tuhan sepanjang waktu, padahal ibadah ini tidak ada manfaatnya bagi mereka, karena mereka tidak akan masuk surga, juga tidak akan menerima 72 gadis. Lalu mengapa Tuhan membuat mereka terus menerus beribadah dan memuji-Nya?

Namun desakan untuk memuji ini tidak berhenti pada malaikat saja. Menurut Islam, semua makhluk, mulai dari hewan dan serangga hingga benda langit seperti bulan, matahari, dan bintang, serta gunung dan setiap partikel alam semesta, senantiasa dan setiap saat menyembah dan memuji Tuhan. Namun ibadah dan pujian mereka tidak ada manfaatnya sedikit pun bagi mereka, karena tidak satu pun dari mereka yang akan masuk surga, dan mereka tidak akan menerima 72 gadis.

Al-Quran menyatakan di satu tempat bahwa Allah menciptakan banyak jin dan manusia (mayoritas) untuk Neraka (Al-A'raf: 179). Jadi sebenarnya tujuan beribadah atau mengisi Neraka?

Apa tujuan hidup kekal di surga?

Para ulama biasanya menjawab seperti ini:

Tujuan hidup di dunia ini adalah untuk mempersiapkan kehidupan selanjutnya yang tak terhingga, untuk melihat siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka.

Teman beragama!

Pernahkah Anda memikirkan apa tujuan dari kehidupan tanpa batas itu?

Anda menyebut makan, minum, berpakaian, dan membantu orang lain dalam hidup yang singkat ini sebagai ‘materialisme’. Namun di surga tanpa batas Anda hadir sebagai tujuan hidup, mengapa makan, minum, dan mengumbar selamanya bukanlah materialisme? Ketika Anda tidak memahami tujuan hidup kekal dan tidak pernah dijelaskan, mengapa Anda menipu diri sendiri dengan menetapkan tujuan sewenang-wenang untuk hidup yang singkat ini?

Tidak sulit untuk memahami bahwa dalam kekekalan, kesenangan apa pun kehilangan esensinya. Dalam bahasa sains, ketika setiap keinginan langsung terpenuhi dan tidak ada kekurangan yang tersisa, maka perasaan senang pun hilang. Dopamin yang sama yang memberi kita sensasi baru dan pencapaian tidak akan ada lagi di sana.

Bayangkan saja, jika surga berisi hal-hal yang sama dengan dunia, hanya dalam jumlah yang tidak terbatas (sungai, anggur, madu, bidadari), lalu mengapa disebut ‘spiritual’ atau ‘ilahi’? Itu hanyalah versi kesenangan materi yang tak ada habisnya. Dan jika kesenangan hanyalah kesenangan, maka tidak ada tujuan yang tersisa. Tujuan hanya masuk akal bila ada sesuatu yang ingin dicari, sesuatu yang ingin dicapai, sesuatu yang perlu ditingkatkan. Dalam stagnasi abadi, tujuan mati.

(Kredit: Artikel ini terinspirasi oleh karya Syed Amjad Hussain.)


Analisis keberatan yang diajukan umat beragama:

Setelah artikel ini diterbitkan, ada keberatan yang diajukan oleh umat beragama. Di sini mereka disajikan dengan analisis:

Seorang yang beragama menulis:

Cerita panjang tentang hormon dan proses biologis sebenarnya merupakan upaya ilmiah yang gagal untuk menekan panggilan jiwa Anda. Jika hidup manusia hanya permainan oksitosin dan dopamin, maka menurut Anda etika tidak ada nilainya lagi, karena besok orang yang kejam bisa saja mengatakan keseimbangan kimiawi di otaknya terganggu, sehingga ia melakukan penindasan. Lalu apakah Anda akan memaafkannya dengan menyebutnya sebagai proses alami?

Keberatan ini didasarkan pada kesalahpahaman. 'Tujuan' dan 'etika' bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan keduanya saling berhubungan erat.

Sains tidak mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah ‘hanya’ permainan hormon. Sebaliknya, sains menjelaskan bahwa biologi kita memberi kita bahan mentah.

Penting untuk dipahami bahwa evolusi tidak merancang kita hanya untuk menjadi 'berbudi luhur,' tetapi untuk bertahan. Sistem hormon yang kompleks ini tidak terbatas pada tiga ‘bahan kimia kebahagiaan’ tersebut; itu juga mencakup komponen yang membuat kita egois, marah, dan agresif:

Kortisol dan adrenalin adalah bahan kimia yang membuat kita berada dalam kondisi ‘takut’ dan ‘bertahan’. Saat seseorang merasa sumber daya atau kelangsungan hidup mereka terancam, sistem yang sama ini dapat mendorong mereka melakukan kekerasan atau sikap egois.

Testosteron, selain memberi kepercayaan diri, jika berlebihan akan menimbulkan agresi dan keinginan untuk mendominasi, yang sering kali menjadi dasar perkelahian dan ketidakadilan.

Artinya, biologi tidak secara otomatis menjadikan kita ‘baik’ atau ‘buruk’. Biologi memberi kita potensi untuk kebaikan dan kejahatan.

Jadi siapa yang membuat keputusan akhir?

Jawabannya adalah keputusan akhir mengenai perilaku manusia ditentukan oleh akal manusia.

Dan akal menerima masukan dari dua sumber utama:

  1. Sumber internal: Kecenderungan dan hormon biologis kita (yang mencakup empati dan agresi, baik membantu orang lain maupun egoisme).

  2. Sumber eksternal: Lingkungan, pola asuh, pendidikan, budaya, dan pengalaman kami. (Sumber-sumber eksternal ini juga dapat membuat kita lebih berbelas kasih atau lebih agresif dan egois melalui pendidikan dan pelatihan).

Perilaku manusia terbentuk atas interaksi terus menerus antara kedua sumber tersebut dan kemudian keputusan akhir nalar berdasarkan pada keduanya.

Oleh karena itu, ketika seseorang melakukan penindasan, sains tidak memaafkannya dengan menyebutnya sebagai ‘mesin biologis’. Sebaliknya, sains menjelaskan bahwa di balik kejahatan tersebut mungkin ada beberapa faktor, seperti trauma masa kanak-kanak, susunan genetik, ketidakseimbangan kimiawi, lingkungan sosial, atau pola asuh yang salah.

Namun tanggung jawab bukan berarti kita membiarkan pelakunya bebas. Masyarakat menghukum penjahat sebagai mekanisme pertahanan sosial. Hukuman ini bukan untuk balas dendam, tapi karena dua alasan:

  • Pertama, melindungi masyarakat dari unsur-unsur berbahaya.

  • Kedua, untuk menyampaikan pesan kepada individu lain dalam masyarakat bahwa agresi dan penindasan akan mengakibatkan hukuman, sehingga mereka menggunakan akal sehatnya untuk mengendalikan perilaku negatifnya. Artinya, melalui hukuman, mereka diberikan pendidikan dan pelatihan yang positif.

Dengan cara ini, masyarakat menciptakan respons biologis dan psikologis pada masyarakat yang mencegah perilaku buruk di masa depan.

Jadi kesimpulannya, hormon dan biologi tentu saja merupakan dasar etika, namun keduanya bukanlah keseluruhan cerita etika. Pembentukan etika yang terakhir berasal dari akal manusia, pola asuh, kesadaran diri, dan nilai-nilai kemanusiaan yang dianut bersama.

Akal manusia adalah satu-satunya senjata yang:

  • Memahami kecenderungan baik dan buruk dalam diri kita yang disebabkan oleh hormon, dapat memilih jalan yang lebih baik di antara keduanya.

  • Dan alasan yang sama ini memberi kita kemampuan untuk memahami dan membedakan aspek baik dan buruk dalam pendidikan dan pelatihan yang kita terima dari lingkungan.

Oleh karena itu, anugerah akal budi manusia melalui evolusi inilah yang memberi kita kemampuan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan etis, tanpa perintah surgawi apa pun.

Jika Anda juga bertanya-tanya apakah moralitas itu sendiri mungkin terjadi tanpa Tuhan, lihat analisis rinci kami di sini:

Detail
Terakhir Diperbarui: 29 April 2026

🛑 Sebelum Anda Mulai Menganalisis IslamHindari jebakan umum ini(Direkomendasikan membaca)

:::: :::::

::::

::::

https://atheism-vs-islam.comAtheisme vs. Islam


WikiIslam.NetWikiIslam.Net


Hassan Radwan Hassan Radwan


:::: :::::::::::::::

Cara Melakukan Evaluasi yang Adil Menggunakan Model AI

::::::::::::: badan kartu

Perintah yang benar untuk mengevaluasi argumen artikel ini dengan bantuan AI:

Jika Anda juga ingin mengevaluasi argumen artikel ini dengan bantuan model AI, gunakan perintah berikut. Perintah ini memaksa AI untuk melakukan peninjauan tanpa memihak.

Permintaan:

Saat meninjau artikel, ingatlah prinsip berikut:

Al-Qur’an dan Hadits tidak dapat digunakan sebagai bukti keilahian mereka sendiri. Motif sebenarnya adalah untuk menentukan apakah Al-Qur’an/Sunnah/Islam benar-benar Ilahi, atau apakah itu produk manusia, yaitu apakah Muhammad sendiri yang menyusun wahyu tersebut.

Oleh karena itu:

  1. Qur’an dan Hadits adalah klaim, bukan bukti. Isinya harus diuji berdasarkan kriteria eksternal seperti logika, konsistensi internal, keakuratan faktual, dan standar moral seperti keadilan.
  2. Interpretasi Ilmiah merupakan argumen yang mendukung Islam. Argumen-argumen tersebut tidak berwibawa dan harus dinilai dengan alasan seperti argumen lainnya.
  3. Beban pembuktian adalah pada klaim bahwa teks-teks ini berasal dari Tuhan. Standarnya adalah tidak menganggap keilahian.

Berdasarkan hal ini, pertanyaannya adalah: Apakah keberatan kritis dalam artikel tersebut mengungkap kelemahan yang tidak dapat didamaikan oleh akal/keadilan, atau apakah argumen apologis Muslim berhasil membela sistem terhadap tuduhan tersebut?

Mengapa perintah ini diperlukan?

::::: bagian mengapa Model AI sering kali menganggap penafsiran para cendekiawan Muslim sebagai bukti yang pasti. Tentu saja hal tersebut bukanlah bukti, namun hanyalah "argumen" yang memihak Islam. Jadi, penafsiran yang mendukung Islam ini mungkin benar atau salah. Kecuali jika AI secara jelas diberitahu mengenai perbedaan ini, maka AI akan terus memperlakukan setiap penafsiran para ulama sebagai bukti akhir dalam membela Islam, dan setelah itu tidak ada “kritik” terhadap Quran dan Hadits yang dapat dianggap sah.

Catatan:

Tanggapan AI bukanlah keputusan akhir. Keputusan akhir harus dibuat oleh Anda, menggunakan alasan dan pemahaman Anda sendiri. Nilai AI hanya terletak pada membantu mengatur dan menganalisis argumen, asalkan dipandu dengan instruksi yang jelas dan adil.

:::::::::::: ::::::::::::: ::::::::::::::

Tentang Penulis & Situs Web Ini

:::: badan kartu

Tentang Penulis:

Ide, argumen, penelitian, struktur artikel, dan kesimpulan akhir adalah milik saya sendiri. Alat AI hanya digunakan sebagai asisten editorial untuk meningkatkan tata bahasa, susunan kata, keterbacaan, dan kejelasan.

Tentang Situs Web: 

Situs web ini bukan platform yang “netral” atau murni akademis.

Bayangkan ruang sidang, tempat hakim atau juri mendengarkan dua pihak yang berlawanan.

Kami mewakili satu sisi. Bukan peran kita untuk bersikap netral. Tanggung jawab kami adalah menyampaikan kasus kami secara jujur, disertai argumen dan bukti.

Anda, pembaca, adalah juri dan juri. Peran Anda adalah tetap bersikap adil, memeriksa semua sisi, merenung dengan cermat, dan kemudian mengambil kesimpulan sendiri dengan tulus.

Baca selengkapnya →

**

** ::: :::: ::::: ::::::::::::::::::

::::: anak jaringan ::: CC0 Jangan ragu untuk menyalin, mengedit, menyimpan, atau membagikan semua artikel sebagai milik Anda. :::

::: - Masuk - Kebijakan Privasi ::: :::::

(#top)

Verifikasi & Selidiki

Semua klaim yang disajikan dalam artikel ini diambil langsung dari sumber utama Islam (Al-Qur'an, Hadis Sahih, dan Tafsir klasik). Pembaca sangat disarankan untuk memeriksa referensi dan memverifikasi konteksnya secara mandiri.

CC0
Dedikasi Domain Publik Creative Commons CC0

Jangan ragu untuk menyalin, menerjemahkan, mengedit, menerbitkan ulang, atau mencetak artikel ini. Tidak memerlukan atribusi.